Strategi Donald Trump dan Pendapat Warga AS Soal Pemakzulan Presiden

Jakarta, era.id - Isu pemakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat ini menjadi perbincangan hangat di negeri Paman Sam maupun dunia internasional. 

Sebelumnya, Ketua Dewan Perwakilan Amerika Serikat Nancy Pelosi resmi membuka penyelidikan formal untuk pemakzulan Trump pada Jumat (25/9). Hal itu diambil karena Trump dianggap telah merusak keamanan nasional dan melanggar konstitusi AS.

Pemakzulan pada Trump datang setelah bocornya laporan Presiden yang berusaha menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam sebuah diskusi melalui telepon pada 25 Juli. Dalam perbincangan itu, Trump disebut meminta Zelensky untuk membuka penyelidikan korupsi terhadap kandidat dari Partai Demokrat Joe Biden dan putranya Hunter.

Baca Juga: Amerika Mulai Penyelidikan Pemakzulan Presiden Donald Trump

Trump juga diungkap telah mengancam pemerintah Ukraina dengan menahan bantuan AS sebesar 400 juta dolar jika tak mau melakukannya. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Trump untuk melawan Biden dengan merusak reputasinya menjelang pemilihan presiden Amerika pada 2020.

Pemakzulan ini tentu saja membuat geram Trump. Dalam akun Twitternya, ia mengatakan pemakzulan ini adalah pelanggaran Presiden. Untuk mengatasi hal ini, Trump berupaya menggunakan jaringan media sosial terutama Facebook dan Twitter untuk menangkal isu yang menimpanya.

Upaya Trump hadapi isu pemakzulan

Menurut laporan CNN, terdapat lebih dari 1.800 lebih iklan di halaman Facebook Trump yang menyebutkan impeachment atau pemakzulan telah berjalan dalam sepekan terakhir. Iklan tersebut telah dilihat antara 16 dan 18 juta kali di Facebook.

Iklan dan kampanye antipemakzulan ini disebutkan telah menghabiskan biaya antara 600 ribu dolar dan 2 juta dolar Amerika Serikat, menurut data yang dianalisis oleh laura Edelson, seorang peneliti di Tandon Scholl of Engineering New York University.

Trump menggunakan iklan itu untuk mempengaruhi orang-orang dengan kampanye yang ia sebut sebagai Official Impeachment Defense Task Force atau Satuan Tugas Pertahanan Resmi Pemakzulan.

Baca Juga: Trump Plintat-plintut soal Serangan Kilang Minyak Arab Saudi

"Saya ingin tau siapa yang berdiri bersama saya. Itulah yang terpenting. Itulah sebabnya tim membuatkan saya daftar SETIAP PATRIOT AMERIKA yang menambahkan nama mereka yang bergabung dengan Satuan Tugas Pertahanan Resmi Pemakzulan," ujar demikian pesan dalam salah satu iklan Trump, dikutip dari CNN.

Laura Edelson yang telah melacak iklan politik dalam Facebook selama lebih dari satu tahun mengatakan, banyak dari iklan itu digunakan untuk mengumpulkan informasi kontak. Ia mengungkapkan data tentang keterlibatan iklan juga bisa menjadi cara yang berguna bagi kampanye Trump untuk mengukur suhu pendukung saat ini dalam masalah tertentu.

Respons warga Amerika

Melihat isu pemakzulan Trump, banyak warga Amerika menyatakan pendapat mereka lewat media sosial. Banyak dari mereka mendukung pemakzulan, namun banyak juga yang tidak menerima hal itu. 

Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters/Ipsos pada 24 hingga 30 September yang dirilis pada Selasa (1/10/2019), ditemukan bahwa sekitar 45 persen orang dewasi yakin bahwa Trump harus dimakzulkan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya mencapai 37 persen. 

Sementara itu, 41 persen orang Amerika lainnya menilai bahwa Presiden tidak harusnya dimakzulkan. Sisanya yakni 15 persen memilih untuk abstain.

Jika dilihat dari sisi elite politik, sebanyak 74 persen pendukung Partai Demokrat mengatakan Trump harus dimakzulkan. Angka ini naik 8 poin selama seminggu terakhir. Sementara itu, 13 persen pendukung Partai Republik mengatakan mereka mendukung pemakzulan. Angka tersebut juga naik 3 poin.

Jajak pendapat ini diikuti lebih dari 2.200 orang dewasa di Amerika, dan sekitar 34 persen di antara mereka telah mengetahui isu skandal Ukraina. Jajak pendapat ini juga menunjukkan bahwa penduduk Amerika Serikat yang mendukung penyelidikan terhadap pemakzulan Presiden Donald Trump meningkat.

Tag: donald trump memukau amerika serikat