Menerka Alasan Siswa Ikut Aksi #STMmelawan #STMbergerak

Jakarta, era.id - Beberapa hari lalu, muncul tagar #STMmelawan dan #STMbergerak di media sosial. Kemunculan tagar ini sejalan dengan aksi demonstrasi pelajar di sekitar Kompleks Parlemen. Aksi ini berujung rusuh dan menyebabkan beberapa fasilitas umum rusak.

Sejumlah pelajar dari berbagai sekolah ditangkap polisi karena terlibat kerusuhan itu. Salah satunya adalah SMK Cengkareng 2 Jakarta yang 30 siswanya terlibat aksi tersebut.

Kepala Sekolah SMK Cengkareng 2 Jakarta Sukatno mengatakan pelajarnya ikut aksi tersebut dengan dalih rasa solidaritas antar pelajar. Selain itu, mereka ikut aksi karena ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi di depan gedung DPR. 

Sebab, beberapa hari sebelumnya, massa mahasiswa melakukan aksi demonstrasi juga di sana. Para mahasiswa melakukan demo penolakan sejumlah RUU bermasalah di sana.

"Mereka hanya solidaritas saja, mereka mau tahu apa yang sedang terjadi," kata Sukatno ditemui era.id, Rabu (2/10/2019).

Sukatno angkat topi soal rasa ingin tahu anak didiknya tentang masalah yang sedang terjadi di DPR ini. Apalagi, siswanya itu mengumpulkan uang buat sewa angkutan kota (angkot) untuk membawa mereka ke depan gedung DPR RI. 

"Mereka patungan buat sewa mobil. Tapi saya tekankan itu hanya karena rasa ingin tahu saja," ungkapnya.

Sukatno menambahkan, siswanya itu tak terlibat dalam kericuhan ataupun bentrokan dengan aparat kepolisian. Dia menerangkan, pelajarnya ditangkap saat perjalanan ke gedung DPR RI. Saat diperiksa polisi, tak ada satupun siswanya yang membawa senjata tajam atau barang-barang berbahaya lainnya. 

"Tidak ada keterlibatan, mereka (siswa) diamankan waktu perjalanan. Jadi waktu mereka di mobil itu langsung diarahkan sama polisi ke Polres," ungkapnya.

Karena tak terlibat kerusuhan, Sukatno menerangkan, anak didiknya diperbolehkan pulang dengan catatan harus dijemput oleh orang tuanya. "Langsung diperbolehkan pulang setelah dijemput orang tuanya," katanya.

Meski dipulangkan karena tak terbukti terlibat aksi kerusuhan ini, siswa SMK Cengkareng 2 Jakarta tak dilepaskan begitu saja. Mereka mendapatkan sejumlah proses pembinaan dari polisi dan sekolah.

Pembinaan pertama dilakukan oleh pihak kepolisian. Dalam pembinaan itu, beberapa pengetahuan soal demonstrasi diberikan kepada mereka. 

"Kita bekerja sama dengan pihak kepolisian. Setelah ditangkap siswa kami dibina terlebih dahulu," kata Sukatno.

Kemudian, sehari setelahnya, puluhan remaja tanggung itu dibina oleh para guru konseling. Namun, pembinaan kali ini tak hanya siswa yang dilibatkan, para orang tua murid juga diikutsertakan agar lebih mengawasi anak-anaknya.

"Kita ajak orang tua murid juga untuk pembinaan. Mereka (siswa) juga berjanji agar tidak terlibat lagi," ungkapnya.

Sukatno menambahkan, pihak pengawas dari Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Jakarta Barat juga menyoroti siswanya yang tertangkap polisi. Namun, karena tak terbukti anak didiknya terlibat dalam aksi demonstrasi berujung ricuh itu, maka hal tersebut tidak menjadi masalah. 

"Dari Sudin sempat ke sini tapi setelah dijelaskan semuanya, saat ini tidak ada masalah," tukasnya.

Tag: demo pelajar ketua dpr