Kondisi Terkini Anak Krakatau yang Masih Suka 'Batuk-Batuk'

Jakarta, era.id - Gunung Anak Krakatau, Lampung, kembali mengalami erupsi pada Minggu (29/12/2019) pukul 05:29 WIB. Erupsi gunung api di tengah Selat Sunda ini dilaporkan MAGMA-VEN (Volcanic Eruption Notice) Badan Geologi, dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 50 meter di atas puncak atau sekitar 207 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah utara. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 37 mm dan durasi sekitar 1 menit 59 detik.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah.

Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kasbani, bilang gunung api Anak Krakatau tingkat aktivitasnya berada pada Level II (Waspada), sejak 25 Maret 2019. 

Gunung dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut ini mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 13 November 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 200 m. Warna kolom abu teramati putih hingga hitam.

PVMBG juga merilis Volcano Ovservatory Notice for Aviation (Vona) atau peringatan aktivitas gunung api terhadap penerbangan dengan kode warna ORANGE yang artinya membahayakan bagi penerbangan pesawat terbang. 

Vona ORANGE terbit tanggal 13 November 2019 pukul 18:32 WIB. “Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 207 m di atas permukaan laut atau sekitar 50 m di atas puncak. Kolom erupsi bergerak ke arah utara,” kata Kasbani, melalui keterangan tertulisnya.

Dalam sejarahnya, gunung dengan nama lain Cracatoa atau Krakatau tersebut memiliki kawah bernama Anak Krakatau. Kota terdekat dengan gunung ini Kalianda (Lampung), Merak, Anyer dan Labuan (Banten), seperti dikutip dari vsi.esdm.

Disebutkan, Komplek Krakatau terdiri dari empat pulau, Rakata, Sertung, Panjang dan Anak Krakatau. Ketiga pulau pertama adalah sisa pembentukan kaldera, sedangkan Anak krakatau tumbuh mulai 20 Januari 1930.

Letusan 27 Agustus 1883 dianggap kejadian terbesar dalam sejarah letusannya, melontarkan rempah vulkanik dengan volume 18 km3, tinggi asap 80 km dan menimbulkan gelombang pasang (tsunami) setinggi 30 m di sepanjang pantai barat Banten dan pantai selatan Lampung. 

Walaupun belum ada kota-kota besar disepanjang pantai tersebut seperti sekarang, tetapi 297 kota kecil (kota kecamatan) hancur disapu tsunami dan menewaskan 36.417 jiwa. Diperkirakan 2000 orang tewas di Sumatera bagian selatan oleh "abu panas" dan terdapat bukti nyata bahwa piroklastik mencapai jarak tersebut. 3150 jiwa tewas diarah piroklastik ini, pada pulau-pulau antara Krakatau dan Sumatera.

Tag: erupsi gunung