'Menyelami' Puisi Mahakarya Sapardi Djoko Damono

ERA.id - Maestro sastra Sapardi Djoko Damono berpulang di usia ke 80 tahun pada hari Minggu pagi, 19 Juli 2020. Sapardi sudah aktif menulis sejak 1960-an hingga saat ini. Tak hanya menuliskan puisi dan sajak, ia juga melahirkan sejumlah cerita pendek, menerjemahkan karya sastra asing, hingga mengajar.

Namun memang puisi-puisinya yang teduh dan romantis masih amat digemari. Rasanya, nyaris tak pernah ada muda mudi yang tak pernah menggunakan puisi-puisi karya Sapardi untuk merayu kekasih hatinya. 

Dia menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis berkembang saat ia menempuh kuliah di jurusan Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

"Sebenarnya sebelum menulis puisi, saya sudah pernah menulis cerita anak dalam bahasa Jawa. Tapi ceritanya ditolak karena dianggap tulisannya tidak masuk akal. Padahal ceritanya benar-benar terjadi," kata Sapardi dikutip dari Antaranews, Minggu (19/7/2020).

Buku puisi pertamanya bertajuk "Duka-Mu Abadi". Bukan hanya puisi, Sapardi juga juga banyak menulis cerita pendek, menulis esai, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar. Ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing.

Baca juga: Jenazah Sapardi Djoko Damono Dimakamkan di Bogor

Beberapa puisinya sangat populer saat ini diantaranya adalah "Aku Ingin", "Hujan Bulan Juni", "Pada Suatu Hari Nanti", "Akulah si Telaga", dan "Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari". Puisi Sapardi, meski sarat simbolisme namun sajak-sajaknya sederhana. Pilihan kata dan tema yang mudah dipahami pembaca, barangkali sudah jadi ciri khasnya.

"Jangan bikin yang ruwet, sajak itu sesuatu yang sederhana, manusiawi dan terjadi sehari-hari," ujar penyair yang menerima penghargaan SEA-WRITE AWARD dari Thailand pada 1986 itu.

Sapardi Djoko Damono (Antaranews)Caption

Berikut sejumlah puisi manis karya mendiang Sapardi:

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat

Diucapkan kayu kepada api

Yang menjadikannya abu..

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat

Disampaikan awan kepada hujan

Yang menjadikannya tiada

1989

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya 

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon itu.

"Hujan Bulan Juni" merupakan novel berisi kumpulan puisi, sajak dan cerita karya Sapardi Djoko Damono yang terbit pada tahun 1994. Novel ini juga pernah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2017 dengan judul yang sama.

Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut

Mencintai air harus menjadi ricik

Mencintai gunung harus menjadi terjal

Mencintai api harus menjadi jilat

Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintaimu harus menjadi aku

"Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta" ada dalam buku karya Sapardi berjudul Melipat Jarak yang terbit pada 2015. Buku ini merangkup sejumlah karya Sapardi yang dibuat selama sepuluh tahun terakhir, sejak tahun 1995.

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti

jasadku tak akan ada lagi

tapi dalam bait-bait sajak ini

kau tak akan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti

suaraku tak terdengar lagi

tapi di antara larik-larik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

impianku pun tak dikenal lagi

namun di sela-sela huruf sajak ini

kau tak akan letih-letihnya kucari

Puisi ini merupakan sebagai salah satu karya fenomenal Sapardi Djoko Damono.

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

“Tapi,

yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

Puisi ini terbit pada tahun 1983 dalam buku kumpulan puisi berjudul Perahu Kertas. Sebagian dari puisi-puisi milik Sapardi tak hanya menyentuh ketika dibaca. Di tangan musisi duo Ari Malibu dan Reda Gaudimo, puisi-puisi ini mengalun dalam nada yang tak kalah menghanyutkan. Meskipun kini Eyang Sapardi sudah tiada, tapi rasanya karya dan cinta dalam tiap-tiap sajak maupun puisinya akan terus abadi.