Studi Sifilis yang Tidak Etis di Tuskegee, 1972

ERA.id - Pada 25 Juli 1972, kantor berita Associated Press (AP) merilis berita mengejutkan tentang sebuah riset medis di Tuskegee: selama bertahun-tahun, 201 pria Afro-Amerika yang menderita sifilis secara sengaja dibiarkan sakit agar bisa menjadi obyek penelitian.

Dalam laporannya, AP menulis bahwa pada awalnya terdapat total 600 pria Afro-Amerika asal Tuskegee, Alabama, AS, yang direkrut untuk sebuah penelitian tentang penyakit sifilis, yaitu infeksi bakteri yang biasa menular lewat kontak seksual. Namun, bahkan ketika obat sifilis ditemukan (penisilin), sebanyak 201 orang partisipan secara diam-diam dibiarkan untuk terus menderita.

Bahkan, pihak Layanan Kesehatan Publik (PHS) Amerika Serikat berusaha mencegah para peserta studi dari mendapat pengobatan. Pada tahun 1934, sebuah makalah melaporkan "efek kesehatan dari sifilis yang tak diobati", seperti diceritakan di CDC.gov. Bahkan pada tahun 1940, ada upaya untuk merekrut para pria tersebut dalam wajib militer. Hal ini semata-mata agar mereka tidak bisa mengakses pengobatan yang ada saat itu.

Pada tahun 1972, yaitu ketika laporan mengenai studi Tuskegee dirilis ke publik, tujuh orang telah meninggal karena sifilis dan lebih dari 150 orang menderita gagal jantung yang mungkin berkaitan dengan penyakit sifilis tersebut.

Tiga bulan setelah diberitakan, studi tersebut, "Studi di Tuskegee terhadap Sifilis yang Tak Diobati di Kalangan Pria Negro," akhirnya ditutup. Studi itu dimulai pada tahun 1932, dan selesai pada 1972 dengan kehebohan di publik AS. Keluarga korban mendapat uang ganti rugi 10 juta dolar pada tahun 1974. Sementara, partisipan studi yang paling akhir meninggal pada 2004.

Daerah Tuskegee dipilih karena memiliki tingkat kasus sifilis terbanyak di Amerika Serikat pada tahun 1930an. Pada tahun 1926, 35% penduduk dari ras Afro-Amerika usia produktif menderita sifilis. Namun, angka ini mengecil menjadi 10% pada tahun 1939.

Peristiwa studi Tuskegee lantas kondang sebagai bagian sejarah medis yang kompleks terhadap kaum Afro-Amerika di Amerika Serikat. Peserta studi medis kerap tidak tahu bahwa mereka sedang menjadi bahan percobaan.

Pada tahun 1997, Presiden Bill Clinton meminta maaf kepada delapan penyintas studi Tuskegee. "Kalian tidak pernah berbuat salah, namun, kalian diperlakukan dengan sangat menyedihkan," kata dia.

Seperti dikatakan oleh Clinton kemudian, partisipasi kaum Afro-Amerika dalam riset medis dan donasi organ tubuh terbilang rendah selama beberapa dekade setelah pemberitaan di tahun 1972 tentang Tuskegee itu. Dunia medis masih khawatir dengan dampak moral dari studi Tuskegee.