Bintan Lagoon Resort dan Hamparan Pasir Panjang yang Teduh

ERA.id - Bintan Lagoon Resort (BLR) adalah resor bintang-lima yang terletak di Pasir Panjang. Banyak pelancong, kebanyakan dari Singapura, berlibur ke BLR untuk menikmati indahnya pemandangan Laut China Selatan yang teduh dan jernih.

Resor yang terletak di hamparan kawasn seluas 300 hektar di pantai Pasir Panjang ini dimiliki oleh Resort Venture Pte Ltd, sebuah perusahaan swasta yang dibentuk di Singapura.

Warga Singapura bisa sampai ke resor ini dengan naik kapal feri selama 75 menit, seperti ditulis oleh laman Trip Advisor. Mereka bisa menikmati pulau tropis dengan sebuah lapangan golf yang didesain oleh desainer kawasan ternama Jack Nicholas dan Ian Baker Finch.

Pada Oktober 2019, resor tersebut mendapat anugerah Hotel Experience of the Year Award 2020 dalam gelaran International Association of Golf Tour Operators Global Golf Travel Awards.

Keberadaan pelancong asal Singapura adalah hal biasa di Pulau Bintan, yang menjadi bagian dari Kepulauan Riau. Menurut Jakarta Post, hampir setengah dari pelancong mancanegara di tahun 2019 adalah warga Singapura.

Mereka, dan banyak wisatawan mancanegara lainnya, bisa menikmati wahana golf, pegunungan, dan tempat hiburan yang terhubung ke berbagai resor di Pulau Bintan.

Event-event besar seperti Bintan Ironman, Bintan Triathlon dan Tour de Bintan juga biasa diselenggarakan secara tahunan di pulau ini.

>

"Balapan sepeda Tour de Bintan sendiri biasa diikuti oleh 1.500 peserta dari berbagai negara, atau dua kali jumlah wisatawan di pulau tersebut," kata  Buralimar, kepala Kantor Pariwisata Bintan.

Sayangnya, di tengah menurunnya angka kunjungan wisatawan ke Pulau bintan, Bintan Lagoon Resort terpaksa harus merumahkan 500 karyawannya dan berhenti beroperasi setelah 26 tahun. Terkenal di kalangan warga Singapura dan Malaysia, beberapa media negara tetangga pun telah mengucapkan "selamat tinggal" pada resor bintang-lima ini.

Kondisi pariwisata Indonesia memang tengah terpuruk. Koran Jakarta Post bulan lalu melaporkan bahwa pandemi COVID-19 menghambat potensi keuntungan Rp88,3 triliun dari pariwisata Indonesia. Selain itu, 95 persen karyawan di bidang pariwisata pun terpaksa dirumahkan tanpa menerima upah yang semestinya.