Perjuangan Mahasiswi Hindu yang Kuliah ke Kampus Islam, Pernah Diajak Salat di Masjid hingga "Dicap" Penyusup

ERA.id - Viralnya kisah seorang mahasiswi Hindu di Makassar, bernama Ananda Ayu Masnathasari, memunculkan banyak tanya, mengapa ia memilih berkuliah di Universitas Muslim Indonesia (UMI)?

Dari pertanyaan itu, ia akhirnya menjawab bahwa awalnya ia mengaku tak pernah berpikir untuk masuk ke UMI. Malah, ia hanya berniat untuk kembali ke kampung halaman orang tuanya, Bali.

Sebagai pemeluk agama Hindu, Ayu merasa sudah terlalu lama berada di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Ia memulai hidupnya di sana dari kecil dan sudah waktunya ia ke Bali.

Akhirnya, saat mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Bali, ia tidak lulus di sana. Pada akun Youtube Rijal Djamal, ia mengakui hal itu. "Belum rezeki di sana," bebernya.

Mahasiswi jebolan Fakultas Kedokteran Umum UMI ini juga dulunya memiliki dua pilihan kampus untuk ditempati menuntut ilmu kedokteran. Salah satunya UMI.

Belakangan, tanpa paksaan sama sekali, ia akhirnya memilih UMI. Apa alasannya? "Saya pertimbangannya dan akredtiasi dan fasilitas di UMI. UMI sudah masuk cakupan," terangnya.

Sebelum mendaftar di sana, Ayu terlebih dahulu membuka diri kepada orang tuanya. Pembahasannya adalah soal konsekuensi, apa benar UMI nantinya menerima mahasiswa non Muslim seperti dirinya.

"Ternyata menerima, hanya tetap mengikuti kebijakan yang ada salah satunya adalah mewajibkan perempuan berjilbab."

Tahu begitu, orang tua Ayu pun menyerahkan semua keputusan kepada Ayu. "Mereka akhirnya sangat percaya pada saya, 'apapun ayu yang dapat dari kampus umi karena Ayu yang pilih itu,'" ucap Ayu menirukan ucapan orang tuanya.

Suka-duka

Lebih dari itu, Ayu sendiri mencatatkan namanya sebagai orang non Muslim yang pertama kali belajar di Faklutas Kedokteran UMI. Ayu sendiri adalah mahasiswi angkatan 2014. Ia menyelesaikan studinya 5 tahun 8 bulan.

Selama kuliah, Ayu menceritakan pengalaman uniknya. Ayu pernah diajak salat di masjid oleh teman kuliahnya. Pengalaman itu ia dapatkan saat di Pesantren Padang Lampe, Kabupaten Pangkep. Sebelum itu, ia merasa sempat kesulitan untuk menyesuaikan dan ragu melanjutkan kuliahnya di UMI.

"Waktu itu masa orientasi mahasiswa di Padang Lampe. Lama-kelamaan baru diketahui sama teman angkatan, akhirnya dosen-dosen tahu juga," ujarnya.

Bahkan yang lebih ekstrem, ia dianggap penyusup oleh beberapa orang. "'Kamu penyusup ya?' Begitu katanya. Ya didengarkan saja, tapi beberapa oknum saja."