Rusia dan Turki Sepakati Gencatan Senjata di Nagorno-Karabakh

ERA.id - Lima hari terlibat dalam kemelut di daerah Nagorno-Karabakh, Rusia dan Turki bersedia melakukan gencatan senjata dan menyelesaikan konflik Armenia-Azerbaijan lewat meja perundingan, kata pernyataan pemerintah Rusia, Kamis (1/10/2020).

Pernyataan tersebut juga disertai detail isi percakapan antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu. Keduanya sepakat menyepakati kemelut di perbatasan Armenia-Azerbaijan.

"Mereka siap saling berkoordinasi mengenai langkah Rusia dan Turki dalam menstabilisasi situasi, sehingga konflik Nagorno-Karabakh bisa kembali diselesaikan melalui negosiasi damai sesegera mungkin," kata pernyataan tersebut.

Hal ini sedikit bertolak belakang dengan isi pidato Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kepada parlemen Turki beberapa jam sebelumnya. Presiden Erdoğan menyatakan bahwa Armenia harus pergi dari kawasan Nagorno-Karabakh jika menginginkan perdamaian abadi di kawasan tersebut.

"Karena Amerika Serikat, Rusia, dan Perancis telah mengabaikan masalah ini selama hampir 30 tahun, mereka tak pantas bia hendak mengupayakan gencatan senjata," kata sang presiden.

Turki mempertontonkan dukungannya terhadap perang yang dilangsungkan Azerbaijan terhadap Armenia. (Alex Galitsky)

Namun, seperti dilaporkan The Guardian, ketiga negara, yang tergabung dalam OCSE Minsk Group sejak 1992, yaitu sebuah kelompok untuk memediasi proses perdamaian di Nagorno-Karabakh, di saat yang bersama merilis seruan agar terjadinya gencatan senjata di kawasan pegunungan tersebut.

Sejauh ini, media masih menunggu konfirmasi dari kantor pemerintahan Turki mengenai kesepakatan gencatan senjata dengan pihak Rusia.

Kawasan Nagorno-Karabakh merupakan kawasan yang makin diwarnai kemelut sejak dekade 1990an pasca runtuhnya Uni Soviet. Azerbaijan, yang didukung Turki dan Israel, secara sah memiliki kawasan tersebut, namun, kelompok dari etnis Armenia, yang didukung Rusia dan Iran, mengaku telah mengelola kawasan tersebut sejak lama.

Sementara itu, seruan damai dari tiga negara anggota OCSE Minsk terjadi hampir bersamaan dengan kabar terlukanya dua jurnalis wartawan Le Monde, sebuah surat kabar terkemuka Prancis. Kedua jurnalis tengah mengunjungi rumah-rumah yang hancur di kota Martuni yang dijaga pasukan Armenia, ketika artileri Azerbaijan jatuh.

Kedua jurnalis kini tengah dirawat di rumah sakit. Satu jurnalis dikabarkan berada dalam "kondisi kritis" dan sedang menjalani operasi, kata otoritas Armenia.