Ingat Pesan Ibu: Kenapa Kamu Harus Jaga Jarak Minimal 2 Meter Selama Pandemi COVID-19

ERA.id - Sebuah riset terhadap 100 orang penumpang pesawat di awal pandemi SARS tahun 2003 menjadi dasar penetapan jarak aman minimal 2 meter (atau 6 kaki) selama pandemi korona baru. Meskipun, ada pula yang merasa jarak tersebut masih terlalu riskan.

Di negara-negara tertentu, contohnya Amerika Serikat, otoritas kesehatan masyarakat dengan jelas menyampaikan bahwa jarak 6 kaki, atau kurang lebih dua meter, adalah jarak aman agar seseorang tidak tertular, atau menularkan, COVID-19. Imbauan itu bisa dilihat di situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat.

Bila ditelusuri, prinsip itu berasal dari era wabah terdahulu, yaitu pandemi SARS di tahun 2003. Saat itu sudah diketahui bahwa sejumlah penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC), MERS, dan SARS, menular melalui droplet, yaitu partikel berukuran minimal 5 mikrometer, dari air ludah atau ingus seseorang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri saat itu menyebutkan droplet menyebar dalam jarak 1 meter dari seorang pasien. Di luar jarak itu, seseorang tidak akan tertular.

Namun, sebuah penelitian terhadap 119 penumpang penerbangan, di mana terdapat 1 pasien dengan gejala SARS (disebut 'Pasien Indeks'), mematahkan aturan tersebut. Lewat laporan ilmiah yang dirilis di jurnal kedokteran the New England Journal of Medicine pada 18 Desember 2003, peneliti menemukan bahwa penumpang yang duduk di tiga lajur di depan Pasien Indeks rentan terinfeksi SARS. Artinya, jarak 1 meter saja tidak cukup.

Oleh otoritas CDC Amerika Serikat, angka ini lantas ditambah menjadi sekitar 2 meter.

Namun, menjaga jarak serentangan tangan orang dewasa saja masih belum cukup.

Kenali Lingkungan

Berbicara ke media Quartz, dokter dan epidemiolog dari Universitas McGill, Giorgia Sulis, mengatakan bahwa lingkungan seseorang menentukan kuat lemahnya persebaran virus SARS baru ini. "Situasi lingkungan tertentu sangat mampu meningkatkan atau menurunkan resiko (penularan)," kata Sulis.

Salah satu yang diperhatikan adalah bahwa virus COVID-19 bisa menyebar dalam droplet kecil yang akan melayang di udara lebih jauh dari jarak 2 meter. Kejadian ini disebut penularan via partikel aerosol. Persebaran virus korona melalui droplet-droplet kecil ini meningkatkan resiko akan terhirup atau mengenai permukaan tangan orang lain.

Lingkungan sekitar seseorang juga mempengaruhi dinamika partikel virus. Seperti diteliti oleh Lydia Bourouiba, seorang peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), kondisi lingkungan berpengaruh terhadap 'dinamika persebaran' suatu droplet.

"Berjalan di ruang terbuka, di tengah kondisi cuaca apapun, akan lebih aman daripada berada di dalam ruangan tertutup yang memiliki sirkulasi udara terbatas," kata Lydia kepada Quartz.

Meski dinamika persebaran virus SARS-CoV-2 masih menyimpan sejumlah misteri, panduan jaga jarak 2 meter dirasa cukup membantu masyarakat untuk mendapatkan 'kepastian' mengenai jarak aman yang harus ditaati. Apalagi jika ditambah dengan kebiasaan memakai masker secara benar (menutupi mulut dan hidung) serta mencuci tangan secara teratur, maka seseorang bisa merasa lebih aman, dan bisa melindungi orang lain, di tengah pandemi COVID-19 ini.