Menguak Mitos Pasar "Gaib" Anjaya dan Hantu Noni di Gunung Bawakaraeng Sulsel

ERA.id - Kemarin, dunia pendakian Sulsel, dihebohkan oleh kabar yang kurang sedap. Fahrul, seorang pendaki, jatuh di patahan jurang spot Pasar Anjaya, Pos 11 Gunung Lompobattang, yang berbatasan Kabupaten Gowa dan Bantaeng, Sulsel.

Hal itu juga sudah diakui Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka bahkan sudah mengerahkan tim untuk mengevakuasi Fahrul.

Untuk diketahui, Pasar Anjaya bukan pasar seperti yang biasa kita lihat. Dinamai Pasar Anjaya karena konon tempat tersebut bisa menjebak para pendaki yang menanjak dan ingin melintas dari Gunung Bawakaraeng ke Lompo Battang, begitu juga sebaliknya.

Sudah menjadi mitos bagi pendaki Sulsel, Pasar Anjaya adalah pasar gaib alias pasar hantu. Pasar Anjaya juga adalah salah satu spot unik yang tidak ditumbuhi pepohonan tak seperti di sekelilingnya, padahal ia terletak di antara dua gunung yakni Bawakaraeng dan Lompo Battang.

Pasar Anjaya

Pendaki di Pasar Anjaya Tahun 2007 Lalu. (MAHADIPA)

Pasar Anjaya terletak di antara Gunung Bawakaraeng dan Lompo Battang. Jika dilihat dari peta Google, lokasi yang disebut Pasar Anjaya memang berbeda sebab pepohonan tampak mengelilingi lokasi Pasar Anjaya tanpa satu pun batang pohon di titiknya. 

Sampai kini, belum ada sumber yang mengetahui pasti, dari mana asal mula nama Pasar Anjaya, namun masyarakat sekitar Bawakaraeng menyebutnya pasar hantu atau tempat berkumpulnya jin.

Itu didukung dengan pengalaman para pendaki yang sering mendengar suara keramaian, namun saat lokasinya dilihat, hanya ada tanah yang lapang, tak ada aktivitas selaiknya pasar.

Pesan para masyarakat sekitar Gunug Lompo Battang dan Gunung Bawakaraeng, para pendaki yang hendak melintas di Pasar Anjaya disarankan untuk tidak memasang tenda di sana.

Hantu Noni di Pos 3

Gunung Bawakaraeng

Bukan cuma Pasar Anjaya saja yang masyhur di telinga para pendaki. Hantu Noni juga sudah sejak dulu dikenal. Inilah kisah yang kerap membuat bulu kuduk para pendaki Gunung Bawakaraeng merinding.

Warga sekitar kaki Gunung Bawakaraeng, di Kampung Lembanna sudah tak asing dengan cerita hantu Noni. Noni sering dikisahkan sebagai hantu perempuan yang cantik. Hingga kini, cerita yang melatari soal meninggalnya Noni di pos 3, masih simpang siur.

Cerita yang paling umum, Noni dikisahkan merupakan pendaki perempuan yang rutin mendaki di Bawakaraeng bersama kekasihnya sekitar 1970 atau 1980-an. Noni, yang konon blasteran Belanda itu, menjadikan Bawakaraeng sebagai tempat pendakian favoritnya.

Namun, seiring waktu, Noni tak lagi terlihat. Ternyata, setelah diusut, Noni dikabarkan gantung diri di pos 3 dan jasadnya ditemukan oleh seorang petani.

Konon, Noni diduga mengakhiri hidupnya karena sakit hati terhadap sang kekasih. Pohon yang disebut menjadi tempat Noni gantung diri hingga kini masih berdiri kokoh di pos 3.

Banyak yang bilang, pendaki biasanya melihat sosok Noni. Namun, cerita tersebut hanyalah mitos di kalangan masyarakat. Bisa dipercaya atau tidak. Sebagian orang percaya akan keberadaan Hantu Noni hanya sebuah kisah mistis.

Namun, fakta bahwa beberapa pendaki sering hilang di Gunung Bawakaraeng masih kerap terjadi. Beberapa orang juga sering mengaitkannya dengan hal-hal mistis hingga hari ini.