Erdogan Berdiplomasi dengan Israel, Jokowi Konsisten Lawan Penjajahan Israel di palestina

ERA.id - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kerap berbicara lantang soal pendudukan Israel di tanah palestina. Namun, siapa sangka jika Israel dan Turki justru memiliki hubungan diplomatik dan bisnis yang erat.

Turki di bawah pemerintahan Erdogan juga terus menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, menolak pendudukan Israel terhadap Tepi Barat, serta blokade atas Jalur Gaza.

"Kami ingin membawa hubungan diplomatik kepada kondisi yang lebih baik. Kebijakan soal Palestina adalah garis batas kami. Mustahil bagi kami mendukung kebijakan Israel terhadap Palestina. Tindakan mereka yang tidak memiliki rasa iba tidak bisa diterima," ujar Erdogan seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Hubungan Israel dan Turki memanas ketika insiden kapal Mavi Marmara pada 2010 silam. Saat itu, kapal Mavi Marmara bergabung dalam rombongan yang hendak mengirimkan bantuan ke Jalur Gaza, yang diblokade Israel. Sembilan warga Turki tewas dalam kejadian itu karena ditembak militer Israel.

Namun, kini sepertinya hubungan diplomatik kedua negara sudah kembali normal. "Kita punya masalah dengan para pejabatnya (Israel). Jika tidak ada masalah di pucuk pimpinan, hubungan kita akan sangat berbeda," kata Erdogan.

Mavi marmara (Anadolu)

Hubungan kedua negara bisa dibilang sangat harmonis jika kaitannya dengan hubungan dagang. Bahkan, Turki adalah satu dari sedikit negara mayoritas muslim yang sudah lama mengakui negara Israel.

Ternyata dari semua negara di dunia, hanya beberapa yang tak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Sebut saja Indonesia, Malaysia, Brunei, Iran, Saudi, Venezuela, Bolivia, dan Palestina.

Sedangkan Indonesia secara konsisten mengecam dan mengutuk tindakan Israel di Gaza dan Yerusalem seraya mendukung penuh kemerdekaan Palestina.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, telah menyampaikan posisi tegas Indonesia terkait tindakan Israel mengusir warga Palestina dari Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, yang disertai dengan penyerangan terhadap warga sipil Palestina di Masjid Al-Aqsha. Semua tindakan tersebut tentunya tak dapat dibiarkan.

“Bapak Presiden menyampaikan bahwa Indonesia mengutuk tindakan tersebut dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah nyata terhadap pelanggaran yang terus dilakukan oleh Israel. Indonesia akan terus mendukung perjuangan rakyat Palestina,” ujar Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

Pemerintah Indonesia juga terus mencermati setiap perkembangan baru yang terjadi di Palestina dan mengecam meluasnya ketegangan dan kekerasan, khususnya yang terjadi di Jalur Gaza, yang menyebabkan munculnya puluhan korban jiwa dari warga sipil.

Terkait hal tersebut, Indonesia berupaya sekuat tenaga dan mengerahkan upaya di segenap lini, termasuk di Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People (CEIRPP). Komite tersebut berada di Majelis Umum PBB yang dibentuk tahun 1975 di mana Indonesia menjadi salah satu negara anggota biro dan memangku jabatan sebagai wakil ketua dalam komite tersebut.

“Indonesia juga mengusulkan agar OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) dan GNB (Gerakan Non-Blok) dapat segera melakukan pertemuan khusus untuk membahas masalah ini. Indonesia juga terus mendesak agar Dewan Keamanan PBB dapat mengambil langkah nyata menghentikan seluruh kekerasan dan menghadirkan keadilan dan perlindungan bagi Palestina,” imbuh Retno.