Menguak Hasrat Terpendam Ernest Prakasa

This browser does not support the video element.

Jakarta, era.id - Sutradara muda, Ernest Prakasa belum puas dengan sejumlah capaian yang telah ia raih semenjak menggeluti dunia film. Penghargaan sebagai penulis skenario asli terbaik versi Festival Film Indonesia (FFI) 2017 dan Best Director dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) untuk film keduanya, Cek Toko Sebelah belum melunturkan hasrat Ernest untuk terus berkarya. Bahkan, Ernest ternyata punya sejumlah impian terpendam, yakni membuat film anak.

Bukan tanpa alasan. Ernest mengaku sudah lama resah dengan persoalan batasan umur yang kerap jadi dilemanya tiap kali membuat film. Ia sadar betul, konten film yang ia produksi selama ini bukan lah film yang bisa dinikmati oleh semua usia. Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan film terakhirnya, Susah Sinyal adalah film yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat berusia di atas 13 tahun.

Bahkan, proyek film yang kini tengah ia garap, Mamet & Milly yang merupakan spin-off dari sekuel film remaja legendaris Ada Apa dengan Cinta (AADC) jelas bukan sebuah film yang dapat dinikmati semua usia. Karenanya, bagi Ernest, membuat film anak menjadi hasrat pribadi yang harus kesampaian. 

"Kalau untuk film ini, yang lucu sebenernya, film itu kan sebenernya ada rating umurnya, jadi kalau saya bikin sesuatu, toh saya tahu itu 13 tahun keatas. Ya memang problem 13 tahun keatas ya harusnya saya berpegang pada itu. Jadi, kalau ada orang tua yang anaknya di bawah 13, terus terpapar sama sesuatu yang belum seharusnya, bukan salah saya sebenernya," tutur Ernest saat berbicara dalam XYZ Day, di The Hall, Senayan City, Rabu (25/4) siang.

Selain film anak, apa lagi ya next to do list-nya Ernest? Mau tahu lengkapnya? Yuk kemon, cek video wawancara kami dengan Ernest di atas! (Vey Adinda)

Tag: hari film nasional 2018 film indonesia ernest prakasa