Ramal Bencana 2022, Anak Indigo Ini Terawang Musibah Air yang Dahsyat: Jakarta Bisa Tenggelam

ERA.id - Anak indigo asal Kediri, Jawa Timur bernama Tigor Otadan meramal bencana alam yang akan terjadi pada 2022. Ia meminta publik untuk selalu berhati-hati karena bencana bisa terjadi kapan saja.

Maka dari itu, ia menyarankan agar masyarakat Indonesia untuk selalu mempersiapkan segala sesuatu jika bencana akan datang. Pada awal 2022, ia menerawang Indonesia akan terjadi musibah air yang dahsyat.

Sementara, akhir 2021 akan terjadi bencana alam dahsyat yang berhubungan dengan api, air hingga angin. Tetapi, paling banyak terjadi adalah musibah air.

"Saya bukan menakut-nakuti, tetapi waspada. 2022 hanya dua kata saya sampaikan. Kalau menggali jangan terlalu dalam, kalau menutup tanah jangan terlalu menutup. Saya simpulkan banyak sekali musibah air kalau alam," ujar Tigor, dikutip dari kanal YouTube Ngaji Roso pada Kamis (11/11/2021).

"Akhir 2021 ini ada bencana besar api, air, angin. Ternyata ada 2021, walau setiap tahun ada bencana. Tetapi ini, dibuka dengan air dan ditutup dengan air," lanjutnya.

Pada akhir 2020, Tigor sempat meramal Indonesia pada 2021 akan diawali dan tutup tahun dengan banjir. Seperti halnya, banjir di Semarang pada awal 2021. Di akhir 2021, terjadi banjir di Malang.

"Di awal 2021, dibuka dengan banjir Semarang ditutup dengan banjir saat ini. Lima hari sebelum Malang banjir, saya sudah share di Instagram saya hujan deras, campuran dengan angin," paparnya.

Tigor memberikan pesan bagi masyarakat Indonesia. Ia meminta masyarakat  untuk selalu menjaga alam sekitar supaya tak terjadi bencana yang tak diinginkan.

"Pesan saya tadi Kalau menggali jangan terlalu dalam, kalau menutup pasir jangan terlalu buntu. Balik lagi ke masalah lampindo yang pernah terjadi,kenapa kok terjadi seperti ini? karena pengeboran yang ngawur dan terjadi semua," ucapnya.

Tigor Otadan (Foto: YouTube/Ngaji Roso)

Dalam terawangannya itu, Tigor juga menjelaskan soal kabar yang beredar mengenai DKI Jakarta bakal tenggelam. Menurutnya, hal itu bisa saja terjadi. Ia menyamakan kasus itu dengan Lumpur Lampindo yang terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur pada 29 Mei 2006.

"Kita evaluasi lagi, berapa banyak tumpukan bangunan di Jakarta seperti apa? bahkan di tol sudah berapa tumpukan. Itu juga alasan ibu kota Jakarta pindah tempat lain, mungkin karena itu juga," tuturnya.

Tigor mengatakan DKI Jakarta bisa saja tenggelam, jika tidak ada evaluasi dan kesadaran diri untuk menjaga alam. Menurutnya, arah air itu tergantung dari masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

"Mungkin dikatakan sesepuh-sesepuh prediksi dari kampus atau lain sama potensi itu juga. Kalau saya pribadi ya bisa tenggalam, kalau tidak ada evaluasi," imbuhnya.

"Iya berhati-hati. Kemana arah air tergantung kita, mau dialirkan sungai atau meresap. Kalau aku lihat dinegara ini, banyak yang menyalahkan. Samapai kapan pun kalau tidak ada evaluasi, siapapun pemimpinnya ya tidak ada perubahan," lanjutnya.