Kemenko PMK: Endemi Sulit Tercapai Jika Kesenjangan Penanganan Covid-19 Antar Daerah Masih Terjadi

ERA.id - Pandemi Covid-19 yang sudah nyaris dua tahun terjadi diprediksi akan berubah menjadi endemi. Namun, hal itu akan sulit dicapai jika masih terjadi kesenjangan.

Deputi III Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto mengatakan, kesenjangan dan disparitas menjadi tantangan untuk mengubah pandemi Covid-19 menjadi endemi.

"Mengubah dari pandemi menjadi endemi tentunya tidak bisa langsung, tetapi harus lewat epidemi terlebih dahulu. Permasalahannya sekarang ini adalah disparitas," kata Agus dalam diskusi daring, Jumat (19/11/2021).

Agus mengatakan, kesenjangan penanganan Covid-19 tidak hanya terjadi secara global, tetapi juga di skala nasional. Di Indonesia misalnya, dia mencontohkan capaian vaksinasi di 34 provinsi yang masih belum merata.

Dia mencontohkan Provinsi Papua yang capaian vaksinasi dosis pertama masih 25 persen jauh dari target pemerintah. Sedangkan DKI Jakarta sudah mencapai 133 persen dan Bali sudah mencapai 100 persen.

"Kita lihat capaian dosis kedua ini semakin ngeri lagi kesenjangannya, luar biasa," kata Agus.

Kesenjangan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia tidak hanya terjadi antar provinsi saja. Di dalam satu provinsi pun masih ditemukan kesenjangan.

Misalnya, di Provinsi Aceh di Kota Sabang capaian vaksinasinya masih sangat rendah dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. "Jadi kesenjangan bisa antar provinsi, tapi juga kesenjangan antar kabupaten/kota di dalam satu provinsi," kata Agus.

Maka, kata Agus, tugas pemerintah saat ini adalah memeratakan penanganan pandemi Covid-19 di seluruh daerah, termasuk dari segi cakupan dan capaian vaksinasi. Dia menegaskan, untuk mengubah pandemi menjadi endemi dibutuhkan kerja sama oleh semua pihak.

"Dari segi vaksin saja datanya, ada provinsi yang luar biasa sudah tinggi dan ada provinsi yang baru 20-30 persen. Ini menjadi bagian penting dari upaya-upaya dari pandemi menjadi endemi di dalam kita," kata Agus.

"Tentu untuk menuju endemi, ini dibutuhkan kerja sama semua pihak dan membangun semua sistem kesehatan di daerah masig-masing," imbuhnya.

Begitu juga dengan kesenjangan skala global. Agus mengungkapkan antar negara-negara di dunia saat ini juga terjadi disparitas baik dari segi cara dan penanganan pandemi Covid-19.

Misalnya, jumlah vaksin Covid-19 di dunia saat ini sudah mencapai 600 juta vaksin. Namun, sejumlah negara di Afrika dan Asia ada yang belum kebagian. Per April 2021 masih ada 10 negara di Afrika yang tidak mendapatkan vaksin.

Sedangkan jumlah vaksin terbesar tercatat ada di Eropa dan penggunaan vaksin Covid-19 terbanyak ada di Amerika Serikat. Oleh karena itu, negra-negera di dunia harus mulai membangun solidaritas dalam pengananan pandemi.

"Saya kira ini bagian yang penting bagaimana epidemi dan endemi itu tercapai. Bila hal ini saja tidak tercapai, maka kita terus dala suatu ancaman Covid-19," pungkasnya.