Jeneponto Masih Banjir Parah, Bendungan Karalloe Andalan Jokowi Apakah Efektif?

ERA.id - Hujan masih sering mengguyur Sulawesi Selatan beberapa hari terakhir. Dampaknya, beberapa daerah sudah terendam banjir, salah satunya di Kabupaten Jeneponto.

Dari penelusuran ERA.id. di Kelurahan Manjangloe, Kecamatan Binamu, Jeneponto, ada rumah yang tergenang banjir. Kolong rumahnya bahkan sudah tak terlihat karena tinggi air di atas rata-rata.

Bukan cuma itu, dari info yang beredar di media sosial, beberapa tempat banjirnya terlihat seperti aliran sungai.

Seperti yang ditunjukka akun Instagram @jeneponto_info. Kabarnya, di batas kota, di Jl poros Pacceko, banjir membuat jalanan tersebut tak bisa dilalui oleh kendaraan.

"Diguyur hujan deras. Sejumlah wilayah di Jeneponto terendam banjir. Salah satunya Jln Poros Paceko/batas kota," tulis admin.

Begitu pula di Kecamatan Tamalatea. Beredar video banjir rob di bawah kolong rumah warga. Banjir itu bercampur lumpur.

"Kondisi banjir saat ini di Lingkungan Manjang Loe, Kecamatan Tamalatea. Slide 2, berlokasi di batas wilayah Jombe-sapanang," tulisnya, Senin (29/11/2021) silam.

Tentunya kita perlu mengingat ucapan Presiden Jokowi didukung Bupati Gowa Adnan Purichta, saat meresmikan bendungan Karalloe di Kabupaten Gowa.

“Kita ingat, baru saja tahun 2019 di Jeneponto terjadi banjir besar. Dengan adanya Bendungan Karalloe ini akan bisa dikurangi 49 persen banjir yang ada,” ujar Jokowi.

Adnan mengamini, menurutnya bendungan tersebut memang bisa menjadi solusi banjir yang kerap menghantui warga yang ada di Kabupaten Jeneponto.

Mengikut presiden, secara perhitungan statistik, Adnan percaya kalau bendungan Karaloe bisa mereduksi banjir hingga 49,12 persen setelah difungsikan.

Bukan cuma itu, infrastruktur yang menelan anggaran triliunan rupiah itu mampu pula mengairi 7 ribu hektare sawah milik warga Jeneponto.

"Air baku untuk 10 kecamatan di Kabupaten Jeneponto 420 L/detik dan 1 kecamatan di Kabupaten Gowa 20 L/detik dan mampu mereduksi banjir 49,12%," tulis Adnan.

Tentunya ini membawa kabar baik, namun bukan berarti ucapan tersebut tak bisa diperiksa lebih detail.

ERA.id pun langsung mengirimkan pertanyaan kepada Adnan. Isinya tak lain adalah sudah sejauh mana riset dan kajian ilmiah terkait ucapan Adnan tersebut?

Apakah angka 49 persen itu adalah daerah yang tidak terkena banjir di Jeneponto ataukah tinggi banjir di tiap daerah tersebut berkurang signifikan? Toh fakta di lapangan memperlihatkan hal yang berbeda, sampel banjir pun cuma beberapa daerah, belum keseluruhan.

Sayangnya, hingga berita ini ditayangkan, pesan yang dilayangkan ERA.id ke Adnan Purichta tak kunjung dibalas.