Wagubnya Diisukan Dekat dengan Korban Pemerkosaan Herry Wirawan, Ridwan Kamil Beri Klarifikasi: Wajar Publik Figur Diminta Foto Selfie..

ERA.id - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil angkat bicara soal isu yang menyebut bahwa Wakil Gubernurnya yakni Ruzhanul Ulum dekat dengan korban pemerkosaan Herry Wirawan.

Lewat postingan di akun Twitter pribadinya, pria yang akrab disapa Kang Emil itu memberi klarifikasi. Ia menyebut bahwa sangat wajar jika seorang publik figur diminta berfoto selfie dengan siapa saja.

"KLARIFIKASI FOTO tsb dari pak Wagub @uu_ruzhanul. Sederhana saja, setiap figur publik umumnya diminta berselfie dengan siapa saja. Sudah kewajibannya menerima permintaan tersebut tanpa harus bertanya dari mana dan siapa," cuit Kang Emil, Selasa (14/12/2021).

Ia juga mengunggah sebuah tangkapan layar artikel soal kedekatan Ruzhanul Ulum dengan korban pemerkosaan ustaz asal Bandung. Kang Emil berharap foto tersebut tidak disalahartikan.

"Jika kemudian foto itu dimunculkan dengan tafsir tertentu, semoga pembaca lebih pintar daripada yang menulis berita. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman," kata dia.

Terkait foto tersebut, Kang Emil menyebut bahwa hal ini merupakan kekhawatirkan yang terjadi jika tim kepolisian memutuskan tidak merilis berita di awal Mei.

"Inilah salah satu yang dikhawatirkan oleh tim kepolisian saat memutuskan tidak merilis berita di awal Mei," kata Kang Emil.

"Ekspos kasus yang sedang berjalan, seringkali membuat media dan individu mencari-cari sensasi tambahan, foto-foto korban dicari dan (mungkin) disebarluaskan," tambah dia.

Suami Atalia Praratya itu menambahkan bahwa foto korban yang tampil di media mungkin ditutup wajahnya. Namun, siapa yang menjamin foto aslinya tidak disebar via aplikasi pesan WhatsApp.

"Alamat orang tua dicari atau bahkan si korbannya sendiri mungkin diwawancarai untuk dijadikan rating konten youtuber," kata Kang Emil.

Ia lantas mencontohkan Sementara, kasus yang sempat menghebohkan Inggris, yaitu kasus Reynhard Sinaga yang sidangnya dilakukan sejak 2018. Namun, rilis beritanya baru dilakukan awal 2020 menjelang sidang selesai, sehingga para korban bisa tenang saat datang bersaksi ke pengadilan.

"Ini sikap pengadilan pada korban orang-orang dewasa, apalagi yang korbannya anak-anak, yang harus didahulukan keamanan psikisnya. Fokus pada solusi bukan sensasi," kata dia.