BRIN Sebut Presidensi G20 Dorong Riset Biodiversitas hingga Kesehatan, Apa Hubungannya?

ERA.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan bahwa Indonesia dalam Presidensi G20 akan mendorong riset eksplorasi biodiversitas hingga kesehatan, termasuk penanganan COVID-19.

"Kita fokus pada riset kesehatan, khususnya yang berbasis pada upaya utilisasi biodiversitas dan lingkungan atau perubahan iklim," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko seperti dikutip dari Antara, Kamis (17/2/2022).

Handoko menuturkan dari segi riset dan inovasi, Indonesia menginisiasi Research and Innovation Informal Gathering (RIIG) sebagai kelanjutan dari inisiatif Italia saat mengemban Presidensi G20 pada 2021.

Pada RIIG, BRIN akan fokus pada dua topik utama, pertama, peningkatan kolaborasi riset di antara negara anggota G20 berbasis pada berbagi sumber daya dan kedua adalah mendorong riset berbasis eksplorasi biodiversitas dan utilisasinya pada posisi yang sejajar mengikuti protokol Nagoya atau access benefit sharing bagi sumber biodiversitas.

Handoko mengatakan akan ada banyak topik riset yang dielaborasi dalam pertemuan negara anggota G20 tersebut.

Ia berharap akan terjalin kolaborasi riset di berbagai bidang potensial, khususnya pada pemanfaatan biodiversitas dan penanganan perubahan iklim, termasuk di dalamnya kesehatan dan maritim.

Riset di bidang kesehatan akan mencakup pemanfaatan biodiversitas untuk menciptakan produk kesehatan, seperti obat dan bahan baku obat, pengembangan vaksin atau obat-obatan, termasuk vaksin dan obat untuk penanganan COVID-19.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan ada tiga agenda di sektor kesehatan pada Presidensi G20 Indonesia yang sejalan dengan agenda utama transformasi arsitektur kesehatan global.

"Pertama, membangun ketahanan sistem kesehatan global. Saat ini Indonesia dibantu tim Bank Dunia dan tim dari World Health Organization (WHO) menyusun dan membangun mekanisme global health fund," kata Budi Gunadi Sadikin melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (16/2).

Budi mengatakan Indonesia perlu bekerja sama dengan negara maju juga perusahaan internasional berskala besar untuk akses pendanaan untuk vaksin, obat-obatan, dan lainnya saat terjadi krisis kesehatan.

Agenda kedua, menyelaraskan standar protokol kesehatan global. Budi mencontohkan ketika ia pergi ke Italia, Inggris, dan beberapa negara lainnya, peraturan terkait PCR, karantina, dan lainnya berbeda di masing-masing negara.

Agenda ketiga, mengembangkan pusat manufaktur dan pengetahuan global untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons terhadap pandemi. "Jangan hanya di negara yang pendapatannya tinggi saja, namun juga di negara lain," katanya.