Jangan Takut Makan Tutut!

Your browser doesn’t support HTML5 audio
Bogor, era.id - Polresta Bogor Kota telah menetapkan tiga tersangka terkait kejadian luar biasa (KLB) keracunan keong sawah atau tutut yang menelan 108 orang. Ketiga tersangka adalah J (54), Y (52), dan S (55), mereka adalah pembuat tutut yang dikonsumsi para korban.

Kasat Reskrim Kapolresta Bogor Kota, Kompol Didik Purwanto menjelaskan, ketiganya saat ini telah ditahan. “Untuk pembuat atau pemasaknya, tiga orang sudah kita amankan, sekarang sudah kita tetapkan tersangka. Sudah kita lakukan penahanan,” tutur Didik.

Meski telah menetapkan tiga tersangka, polisi belum bisa menjelaskan bagaimana proses pengolahan atau bahan apa yang digunakan para tersangka sehingga tutut yang dikonsumsi para korban bisa begitu mencelakakan. Sampel tutut sendiri saat ini masih diuji di laboratorium Dinas Kesehatan Kota Bogor. 

Tersangka kini diancam dengan Pasal 62 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Perlindungan Konsumen dan Pangan. “Dari keterangan tersangka, mereka sudah sering memasak bahan tutut, dan selama ini tidak ada masalah," kata Didik.

Nasib korban

Hingga hari ini, jumlah korban keracunan bertambah jadi 108 orang. Angka itu didapat dari hasil penyisiran yang dilakukan tim surveilance dan tim kesiapsiagaan Dinas Kesehatan Bogor. 

"Tercatat jumlah warga yang keracunan itu ada 108 orang tersebar di lima RT," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Rubaeah, seperti dilansir Antara, Senin (28/5).

Para korban kini tengah menjalani perawatan di enam rumah sakit dan lima puskesmas. Beberapa dari mereka menjalani rawat jalan dengan pendampingan tenaga kesehatan bidan dan perawat puskesmas. Hingga berita ini ditulis, sejumlah korban telah diperbolehkan pulang.

Semua berawal dari Keong Sawah yang dijual J. Makanan itu sebenarnya biasa dijual sehari-hari olehnya. J pun sebenarnya bukan penjual kemarin sore. Dia biasa berdagang keong sawah dari Bu Yayah warga RT 004/RW 007. Dan belum pernah ada juga kejadian seperti ini sebelumnya.

Sejumlah warga bercerita, keong sawah tutut yang mereka makan pada Jumat (25/5) kemarin memang sudah agak berlendir. Malah bau nya sudah tidak enak. Ada juga warga yang hanya meminum air kuahnya saja, eh terpaksa diangkut juga ke rumah sakit karena diduga keracunan juga.

Haruskah khawatir?

Peristiwa ini pasti mengkhawatirkan banyak orang. Bagaimana enggak, tutut sekarang telah jadi makanan sejuta umat. Diperdagangkan bebas, dari kios, warung tenda, hingga dijajakan di pinggir jalan dengan sepeda motor atau sepeda.

Tutut sejatinya adalah makanan yang memiliki begitu banyak manfaat. Menurut penelitian Positive Deviance Resource Centre, 100gram tutut mengandung 12 persen protein, 217 miligram kalsium, dan 81 gram air.

Selain itu, tutut juga mengandung vitamin A, E, Niacin, dan folat. Selain itu, rendahnya jumlah kolesterol yang terkandung dalam tutut mikronutrien berupa mineral jadi alasan masuk akal kenapa tutut jadi pilihan konsumsi yang memang oke.

Baca Juga : Keong Sawah Bawa Petaka di Bogor

Jadi, enggak seharusnya kejadian di Bogor ini bikin kita parno mengonsumsi tutut. Yang harus dicatat, sebagaimana informasi yang telah disampaikan Dinas Kesehatan Bogor Kota, tutut hanya boleh dikonsumsi dalam jangka waktu enam jam setelah tutut itu dimasak.

Jika lewat dari jangka waktu tersebut, tutut akan berubah jadi makanan beracun. Artinya, jika kamu ingin memasak tutut, masaklah tutut sesaat sebelum kamu konsumsi. Atau, jika kamu membeli tutut, pastikan tutut itu segar.

Beberapa cara bisa kamu lakukan untuk memastikan hal tersebut. Misalnya dengan mencium aroma tutut dan meneliti teksturnya. Jika tercium aroma enggak sedap atau teksturnya sudah terlihat lengket dan berlendir, maka buanglah!

Jadi, enggak perlu khawatir berlebihan. Yang penting, modali dirimu dengan pengetahuan yang cukup!

Tag: keong maut di bogor