Hikayat Seribu Satu Malam: Kisah Kekuatan Cerita yang Mampu Menunda Ajal

ERA.id - Kisah 1001 Malam bisa jadi adalah kumpulan cerita paling epik dari Timur Tengah hingga saat ini. Asal-usul kompilasi asli kisah 1001 Malam hingga kini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Dari mana asal-usul kisah 1001 malam?

Kisah 1001 Malam

Baca selengkapnya di artikel "Kisah Seribu Satu Malam yang Mengubah Sastra Timur Tengah", https://tirto.id/d7lv

Kisah 1001 Malam

Baca selengkapnya di artikel "Kisah Seribu Satu Malam yang Mengubah Sastra Timur Tengah", https://tirto.id/d7lv

Kisah 1001 Malam

Baca selengkapnya di artikel "Kisah Seribu Satu Malam yang Mengubah Sastra Timur Tengah", https://tirto.id/d7lv

Dikisahkan, hidup seorang raja yang lalim di dataran tinggi Persia (sekarang Iran) bernama Shahriyar. Sang raja doyan memenggal perempuan yang telah dinikahinya dalam semalam hanya untuk melampiaskan dendam kepada istri pertamanya yang tak setia. 

Hingga suatu hari, ada seorang putri sulung dari anak wazir kerajaan bernama Shahrazad bersedia menjadi istri semalam sang raja.

Shahrazad ini bukan perempuan biasa. Ia memiliki kecerdasan di atas rata-rata perempuan lain ketika itu. Sebab, ia merupakan pembaca yang tekun. Ia telah banyak membaca ribuan buku perihal para raja, dongeng, dan sejarah umat manusia. 

Dari modal kisah-kisah yang telah ia baca, Shahrazad menceritakan ulang kepada Shahriyar. Ia menceritakan kisah tersebut sampai waktu fajar menyingsing.

Shahrazad mengisahkan itu selama 1000 malam. Sepanjang malam yang banyak itu mengakibatkan Shahriyar menjadi lupa untuk membunuh Shahrazad.

Akan tetapi, malam yang ke-1001, Shahrazad kehabisan cerita. Karena telah keasyikan dengan kisah-kisah Shahrazad, pada akhirnya Shahriyar tidak memenggal kepala Shahrazad, malahan mengangkatnya menjadi istrinya, permaisurinya. 

Beberapa Versi Hikayat 1001 Malam

Hikayat 1001 Malam atau dalam bahasa Arabnya, Alf Layla wa Layla, merupakan karya sasta epik yang sangat fenomenal. Tidak ada yang mengetahui siapa penulisnya. Hanya saja, karya tersebut diketahui berdasarkan dari kisah-kisah banyak negeri, misal Arab, Persia, India, Cina, dan Yunani. Dan diperkirakan kisah-kisah tersebut berasal (atau dituliskan) dari abad ke-8 hingga 12, pada era keemasan Islam. Di era kepemimpinan Harun Ar-Rasyid, Kekhalifahan Abbasiyah di Bahgdad. 

Ketika itu, Bahgdad adalah kota metropolitan, banyak pedagang dari penjuru dunia datang singgah, sehingga pertukaran ide atau kisah-kisah pun terjadi. 

Karya sastra epik ini merupakan kumpulan cerita rakyat yang diwariska turun temurun dari satu generasi ke gerenasi berikut sepanjang peradaban manusia. 

Ceritanya berbingkai yang sambung menyambung, kemudian menampilkan beragam tokoh yang berbeda-beda. Temanya pun begitu kaya, dari kisah legenda, dongeng, fabel, dan roman. 

Kelahiran atau kemunculan karya hebat ini memiliki beberapa versi. Kalau menurut N.J. Dawood dan William Harvey dalam buku Tales from the Thousand and One Nights mengatakan bahwa Hikayat 1001 Malam merupakan sastra epik berasal dari kebudayaan India, Persia, dan Arab. Para pencerita muslim menambahi dan mengadopsi cerita dengan nuansa lokal Arab.

Menurut Duncan Black MacDonald, orientalis Amerika, dalam artikel "The Earlier History of the Arabian Nights" pada Journal of the Royal Asiatic Society edisi 1 Juli 1924, bahwa versi Hikayat 1001 Malam diterjemahkan di Eropa pada abad ke-18 mempunyai beberapa perbedaan dengan terjemahan yang lain.

Ia adalah Antoine Galland, orientalis Prancis, yang pertama memperkenala Hikayat 1001 Malam kepada publik Eropa. Ia bawa Hikayat tersebut pada awal abad ke-18. Sekitar 11 tahun, Galland menerjemahkan dan penerbitkan koleksi sepanjang 12 volume. Seri terjemahannya diberi judul Les Mille et Une Nuits, Contes Arabes, Traduits en Français.

Di Eropa, kisah-kisah tersebut digemari oleh kebanyakan warga Eropa. Pada abad awal ke-18, warga Eropa sudah doyan baca buku. Dan sudah banyak karya sastra epik hadir. 

Hikayat 1001 Malam dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia juga mengambil bagian untuk menerjemahkan karya yang memuat kisah Aladin itu, walau sekitar tiga abad kemudian, seperti Mizan dan Qisthi Press menerbitkan edisi lengkapnya. 

Sedangkan ada penerbit lain yang hanya menerbitkan "sepilihan kisah terbaik", seperti Penerbit Katta dengan judul The Arabian Nights: Kisah-Kisah Fantastis 1001 Malam (2011); Penerbit Elex Media Komputindo menerbitkan dengan judul One Thousand and One Arabian Nights: Kisah 1001 Malam (2008) dan sepuluh tahun kemudian pada 2018 Elex menerbitkan lagi dengan judul Fairy Tales from the Arabian Nights.

Yang terbaru dari penerbit Divapress dengan berani ambil risiko menerbitkan edisi lengkapnya sejak Agustus 2018. 

Bahkan, menurut Cep Subhan KM, esais dan penerjemah, dalam esainya "1001 Malam Cerita Lisan dan Nama Baru tanpa Selamatan", menyebutkan ada beberapa kisah di dalam Hikayat 1001 Malam sudah diterjemah ke bahasa Sunda.

"... beberapa pilihan ceritanya dalam bahasa Sunda misalnya bisa ditemukan dalam 5 jilid buku tipis Lalakon Saepulmuluk (6 cerita), Palika Jeung Jin (9 cerita), Istri Pelit (2 cerita), Anis Aljalis, dan Buah Koldi (6 cerita). Dalam pengantar buku-buku tersebut Ajip Rosidi mengatakan bahwa kemungkinan penyaduran dilakukan tidak dari bahasa Arab melainkan dari bahasa Belanda."

Proyek penerjemahan seperti itu baguslah adanya, sebab ilmu pengetahuan di luar bisa diakses oleh orang Indonesia. Apalagi terjemahan sastra seperti Hikayat 1001 Malam akan menstimulus imajinasi bagi pembaca.