Meski Klitih Marak, Wali Kota Pastikan Wilayahnya Aman: Jangan Takut ke Yogyakarta, Tak Ada Korban Acak

ERA.id - Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti menjamin kota pelajar dan kota wisata tersebut aman untuk dikunjungi. Pernyataan ini disampaikan menyusul merebaknya aksi klitih atau kejahatan jalanan belakangan ini.

“Silakan datang ke Yogya. Saya Walikota, Wakil Walikota, Polresta, Polda, Kodim TNI kita akan berupaya sekuat tenaga menjaga Yogyakarta aman. Aman dihuni, nyaman dikunjungi. Apalagi menjelang selesainya bulan Ramadan, silahkan datang ke Yogya tanpa ada kekhawatiran apapun,” kata Haryadi usai rapat koordinasi dengan Polda DIY dan Polresta di Balai Kota Yogyakarta, Selasa (12/4/2022).

Menurutnya, Pemkot Yogyakarta sudah berkoordinasi dengan Polresta dan Kodim Yogyakarta untuk menjaga Yogyakarta tetap aman.

Salah satu langkahnya dengan melakukan patroli bersama dan melibatkan organisasi masyarakat seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia, Karang Taruna, Kokam, dan Banser.

Langkah ini menyusul aksi klitih yang brutal seperti kejadian yang menewaskan DAA (18), Minggu (3/4). Lima pemuda telah ditangkap atas kejadian yang bermula saling ejek dan kejar-kejaran motor antar-sekelompok remaja tersebut.

Haryadi menegaskan kejahatan jalanan yang melukai orang akan memiliki konsekuensi hukum. Pihaknya menyerahkan persoalan itu sesuai proses hukum kepada kepolisian.

Selain itu, untuk menjaga Yogyakarta tetap aman, Pemkot Yogyakarta akan lebih mengaktifkan penegakan Peraturan Daerah Nomor 15 tahun 2018 tentang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.

“Tidak perlu takut ke Yogya. Orang mengatakan Yogya tidak aman. Kata siapa? Yogya aman. Insya Allah aman. Tidak perlu berlebihan. Tidak ada korban acak. Kami ada untuk masyarakat. Kami ada untuk menjaga keamanan semuanya,” kata Haryadi.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menambahkan, salah satu kesimpulan dari pertemuan dengan kepolisian tersebut adalah tidak adanya korban acak terhadap kejahatan jalanan.

Kejadian itu diawali gesekan antara kelompok remaja.

“Kita juga sudah ada perda ketahanan keluarga dan perwal yang menyangkut bagaimana keluarga membina anak-anaknya. Termasuk di antaranya meminta agar jam sepuluh malam diharapkan anak-anak sudah di rumah. Karena ada tri pusat pendidikan. Tidak hanya sekolah, tapi juga keluarga dan masyarakat,” jelasnya.