Mampukah Taufan Pudarkan Pesona Nurdin Halid di Golkar Sulsel Demi Tiket Pilgub?

ERA.id - Ketua DPD I Golkar Sulsel, Taufan Pawe, hampir pasti berat menyongsong pemilihan gubernur. Dinamika membuat dirinya diuji, seberapa pantas ia menakhodai partai berlambang beringin itu. Ia kini dibebankan tanggung jawab untuk menaikkan elektoral Golkar di Sulsel selepas Nurdin Halid.

Memangnya seperti apa kiprah Nurdin semasa menjadi suksesor Syahrul Yasin Limpo di Golkar Sulsel? Setelah melanjutkan kerja SYL, Golkar Sulsel meraih 18 kursi di DPRD Sulsel. Pada periode 2019-2024, berubah menjadi 13 kursi. Jelang pileg 2019, Nurdin sudah terpilih secara aklamasi oleh pengurus Golkar dari 24 Kabupaten/Kota melalui Musyawarah Daerah (Musda). NH saat itu menjabat sebagai Ketua Definitif.

Meski menurun, saat Pilgub Sulsel 2018, kerja politik NH bisa dibilang bertaji. Bersama Aziz Qahhar, dia berada di peringkat dua, meraih 1.162.751 suara. Di atasnya, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman meraup 1.867.303 suara. Sementara pesaingnya yang lain hanya mendapat ratusan ribu suara.

Seiring berjalannya waktu, NH digantikan Taufan Pawe. NH kembali ke DPP, mengemban tugas sebagai Wakil Ketua DPP Golkar di bawah arahan langsung Ketua Umum Airlangga Hartarto. Melenggangnya NH ke DPP tak membuat Taufan duduk anteng. NH bermanuver, ia mendorong Ilham Arief Sirajuddin untuk maju ke Pilgub Sulsel, bersaing dengan Taufan.

Menanggapi itu, pakar politik sekaligus Direktur Profetik Insititute Muh Asratillah Asra. menilai kerja Nurdin Halid dan Taufan Pawe belumlah bisa dibandingkan. Jelas, karena Taufan baru akan diuji tahun depan, pada pileg serentak.

Sejauh ini, Taufan barulah diterpa protes beberapa DPD yang tak suka akan kebijakannya. Dari perombakan fungsionaris hingga penetapan Ketua DPD II Golkar di beberapa daerah Sulsel. Banyaknya loyalis NH yang tak lagi mendapat jabatan 'basah', membuat polemik baru.

Wajar, sebab Taufan punya gaya kepemimpinan sendiri. Belum diketahui pasti pula, apakah kebijakan Taufan itu akan berbuah petaka dan merugikan dirinya sendiri. "Walaupun cukup banyak polemik yang mengitari kepemimpinan TP, tapi terlalu dini kita menilainya. Kita bisa menilainya setelah melihat capaian elektoral Golkar Sulsel di 2024 nanti," ungkapnya.

Terakhir, ia menyarankan, agar TP sebisa mungkin menekan polemik yang tidak produktif sebab Golkar Sulsel mesti fokus mengerahkan segala energinya untuk berkembang pesat di tahun 2024. Dari sana, DPP Golkar baru akan bisa menilai dan mengevaluasi siapa yang layak untuk didengar suaranya jelang Pilgub Sulsel, NH ataukah Taufan?