Nafsu Menjabat 3 Periode, Presiden Guinea Ternyata Sudah Ubah UUD Sebelum Dikudeta

| 06 Sep 2021 13:13
Nafsu Menjabat 3 Periode, Presiden Guinea Ternyata Sudah Ubah UUD Sebelum Dikudeta
Fotoyang diambil oleh pihak militer menunjukkan Presiden Guinea Alpha Conde dikelilingi unit militer elit negara tersebut, dalam sebuah proses kudeta. (Foto: @ncambirwa/Twitter)

ERA.id - Unit tentara pasukan khusus berhasil menahan Presiden Guinea Alpha Conde dan menyatakan via televisi bahwa proses kudeta terhadap pemerintah telah berhasil, Minggu, (6/9/2021). Negara tersebut kini dinyatakan berada dalam pembatasan nasional "hingga waktu yang belum ditentukan".

Berbicara via siaran televisi, komandan unit militer elit Guinea, Mamady Doumbouya, mengatakan telah "membubarkan pemerintahan dan institusi" di negara itu. Ia menyebut "kemiskinan dan korupsi yang mewabah" jadi alasan kenapa para tentara memilih menggulingkan Presiden Conde, melansir Deutsche-Welle, (6/9/2021).

"Kita akan menuliskan ulang konstitusi ini bersama-sama," ucap Doumbouya, seorang eks tentara legioner asing Prancis.

"Pengkultusan kehidupan politik telah selesai. Kita tidak akan lagi mempercayakan politik pada satu orang. Kita akan mempercayakan hal tersebut pada para warga."

Perbatasan darat dan udara Guinea kini telah ditutup, sebut Doumbouya. Militer juga akan mengumpulkan seluruh menteri dan pejabat tinggi di kabinet Presiden Conde pada Senin pukul 11 pagi waktu setempat, melansir DW.

Sejumlah video yang diambil dari kota Conakry, Guinea, menunjukkan bagaimana kudeta militer terhadap Presiden Conde justru dirayakan oleh warga. DW memberitakan seorang warga yang mengaku gembira dengan penggulingan pemerintahan akibat "situasi suram yang ada di negeri itu".

"Warga sangat menderita. Tidak ada air, tidak ada listrik, bahkan tidak ada jalanan! Tidak ada jalanan di Guinea, ini sangat menggelikan! Kami semua lelah oleh kenyataan ini," seperti diberitakan di DW.

Namun, ada pula sebagian orang yang mengaku kesal kenapa penjagaan terhadap Presiden Conde begitu mudah dibobol oleh pasukan elit militer. "Seakan-akan kami tidak memiliki satuan tentara!" sebut seorang warga, dikutip DW.

Presiden Alpha Conde naik tahta pada taun 2010 setelah memenangi pemilu demokratis pertama negara tersebut. Ia sempat mendapat ancaman pembunuhan pada 2011, namun selamat.

Pria berusia 83 tahun itu menuai kontroversi setelah memenangi pemilu presiden tahun 2020, yang otomatis memberinya kesempatan menjabat selama tiga periode. Kontroversi ini bermula dari fakta bahwa ia sebelumnya telah mengubah undang-undang dasar Guinea sehingga memperbolehkan dirinya menjabat lebih dari dua periode.

Pihak oposisi politik Guinea mengklaim bahwa pemilu tahun lalu dipenuhi kecurangan, sementara puluhan orang dikabarkan tewas saat melakukan protes anti-pemerintah, melansir DW.

Presiden Conde telah berjanji untuk memberantas korupsi yang marak di negerinya. Namun, sejumlah analis menyebut ia gagal menaikkan taraf hidup orang banyak. Mayoritas penduduk berada dalam kemiskinan padahal Guinea - negara yang merdeka dari Prancis pada 1958 - kaya oleh hasil bumi seperti berlian dan emas.

Rekomendasi