Panduan Mencegah Orang Terdekat yang Kepingin Bunuh Diri

Tim Editor

    Ilustrasi (Pixabay)

    Jakarta, era.id - Selain diperingati sebagai Hari Anti-Hukuman Mati, 10 Oktober juga diperingati sebagai Hari Kesehatan Metal Dunia atau World Mental Health Day. Peringatan yang digagas Badan Kesehatan PBB, World Health Organization, itu mengambil tema pencegahan bunuh diri.

    Menurut data WHO, dunia kehilangan satu jiwa setiap 40 detiknya karena bunuh diri. Oleh karena itu, isu pencegahan bunuh diri menjadi penting untuk dikampanyekan.

    Bunuh diri biasanya terjadi secara diam-diam sehingga tidak bisa dicegah. Tetapi, tak jarang juga, pelaku bunuh diri memberikan tanda-tanda dirinya ingin mengakhiri hidup.

    Dilansir dari alodokter.com, orang yang akan melakukan percobaan bunuh diri biasanya menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa. Tanda-tandanya, antara lain: membuat surat wasiat, memberikan benda-benda berharganya, pamit ke kerabat dan keluarga, menyimpan pil-pil berbahaya atau senjata api, terlihat cemas atau gelisah, dan menjauhkan diri dari kerabat atau keluarga.

    Baca Juga : Tanda Tanya di Balik Tulisan Tangan Anak SD yang Bunuh Diri

    Tetapi, ada juga orang yang secara terang-terangan mengutarakan keinginannya bunuh diri. Umumnya, orang seperti itu bakal memberi tahu ke orang terdekat.

    Lantas bagaimana kita menyikapinya?

    Dilansir dari website Into The Light Indonesia -- komunitas yang fokus pada pencegahan bunuh diri, kita perlu berhati-hati dalam bertindak ketika mengetahui orang terdekat punya keinginan bunuh diri. Sebab, kalau salah dalam mengeluarkan ucapan atau perbuatan, kondisi justru semakin memburuk.

    Jangan berasumsi

    Tahan semua asumsi Anda di dalam kepala Anda sendiri adalah yang pertama. Jangan pernah lemparkan asumsi-asumsi seperti itu di saat orang hendak bercerita/curhat kepada Anda. Biarkan ia berbicara lebih dahulu, dan kita menjadi pendengar yang baik.

    Melempar asumsi pribadi Anda mengenai kondisi orang tersebut bukan hal yang direkomendasikan. Itu akan memperburuk kondisi.

    Contoh asumsi itu seperti: “Kamu pasti kurang ibadah yah”, “Jangan kayak orang kurang piknik gitu deh”, “Ah, Kamu caper aja, dari dulu bilang pengen mati tapi gak jadi-jadi”.

    Jangan meremehkan

    Menanyakan hal-hal berkaitan dengan keinginannya. Hal tersebut seperti bagaimana kecenderungannya, kapan pertama kali ada keinginan tersebut, dan sudah seberapa detail rencananya.

    Semakin lama dan detail pemikiran bunuh diri, akan semakin besar kemungkinan bahaya orang it umelakukan bunuh diri. Pengetahuan mendalam seperti itu bisa membantu Anda mengambil sikap.

    Jangan pernah meremehkan bahwa ucapan kematian, tidak ingin dilahirkan, merasa terperangkap, merasa tidak ada masa depan, atau hendak tidur selamanya sebagai ucapan yang main-main.

    Jauhkan dari bahaya

    Mintalah orang yang punya keinginan bunuh diri untuk menjauhkan diri dari akses bahaya. Dengan begitu, orang tersebut menjauh dari kemungkinan bunuh diri.

    Contoh: ”(Alat) Ini saya simpan dulu yah”, “Tolong kamu jaga diri kamu dari tempat berbahaya, yah”.

    Menantang untuk bunuh diri justru akan menjadi pemicu bunuh diri. Ini sangat tidak direkomendasikan.

    Contoh: “Udah lakuin aja kalau mau mati”,”Jangan cuma caper, ambil itu (alat) dan lakuin kalau berani”.

    Jadilah teman

    Usahakan Anda, atau orang yang dekat jarak secara fisik atau, pun akrab secara emosional terhadap orang dengan kecenderungan bunuh diri, untuk berada tetap di dekatnya hingga pemikiran tersebut lewat.

    Meninggalkan orang dengan kecenderungan bunuh diri sendirian, tidak akan membantunya.

    Tag: hari pencegahan bunuh diri

    Bagikan :