Melihat dari Dekat Pembuatan Tenun Maumere di Sarinah

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Martina pembuat tenun Maumere (Gabriella Thesa/era.id)

Jakarta, era.id - Pameran kain nusantara sudah digelar di mana-mana, tapi ada yang menarik ketika mengunjungi pameran kain di pusat berbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta, Selasa (29/10/2019). Seorang ibu pengrajin kain tenun dari Maumere, Nusa Tenggara Timur terlihat sedang memamerkan keahliannya menenun kain lengkap dengan alat tenun yang dibawa langsung dari Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Martina pengrajin tenun asal Maumere, meski dikerubungi oleh ibu-ibu sosialita yang asyik mendokumentasi keterampilan menenunnya, tapi tetap fokus. Tangannya dengan cekatan menjalin untaian benang demi benang dan menciptakan pola pada kain dari alat tenun tradisionalnya.

"Ini baru satu minggu bikin begini, biasa bisa sampai satu bulan," ungkap Martina kepada era.id dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata.

Ia mengaku sudah bisa menenun sejak masih remaja. Martina mengatakan, perempuan Maumere di zamannya harus bisa menenun sebagai tanda sudah cukup layak untuk dinikahi.


Cletus dan Wina (Gabriella Thesa/era.id)

Keterampilan menenun kain tradisonal kini sudah mulai luntur seiring perkembangan zaman. Tak lagi banyak anak muda yang piawai menggunakan alat tenun tradisional di era sekarang. Semangat untuk kembali mengenalkan budaya lokal inilah yang mendorong Cletus Beru sang pemilik usaha, membawa serta Martina ke pameran. "Iya (sebagai pengetahuan) biar orang-orang juga melihat bagaimana prosesnya," ujar Cletus.

Cletus tak hanya membawa Martina dan alat tenun tradisionalnya saja. Di booth pamerannya, ia juga memerkan tahapan demi tahapan suatu kain tenun khas Maumere bisa terbentuk. Misalnya alat untuk mengeluarkan biji kapas, alat pemintal kapas hingga menjadi kain, juga berbagai pewarna alami.

Ia menuturkan, kain tenun miliknya benar-benar dikerjakan dengan tangan. Pewarna kain yang digunakan juga dari bahan-bahan alami sehingga ramah lingkungan. Misalnya kunyit untuk membuat benang berwana kuning.

"Warna biru itu kita pakai daun indigo, hijau ada daun lokal di sana kacang hutan. Itu akar mengkudu buat warna merah," papar Cletus.

Ia menyebut pembuatan satu kain tenun bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan, hal itu tergantung dari ukuran dan motif dari masing-masing kain. Selain itu, faktor cuaca juga memengaruhi lama tidaknya pengerjaan kain tenun.

Jika kita menyentuh kain tenun yang baru jadi maka akan terasa kaku dan kasar. Cletus bilang, hal itu efek dari kanji yang melekat di tiap benang. Selain untuk menjaga warna alami, kanji juga membantu mempermudah proses penenun kain. "Kadang kan orang mengeluh kok kasar namanya kena kanji kalau sudah dicuci berulang kali baru halus kembali," katanya.

Ada puluhan kain yang Cletus bawa langsung dari Maumere. Kisaran harganya pun bermacam-macam, mulai dari Rp500 ribu hingga Rp15 juta. Sekali lagi tergantung motif dan panjang kainnya.

Mengenalkan budaya yang mulai luntur

Salah satu anggota Komunitas Cinta Berkain yang juga penyelenggara pameran, Wina Wilman mengatakan pihaknya sengaja mengundang Cletus untuk ikut pameran. Tujuannya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kain nusantara dan mengenalkan macam-macam kain nusantara.


Martina pembuat tenun Maumere (Gabriella Thesa/era.id)

"Komunitas kami bekerja sama dengan Sarinah sengaja mengundang Pak Cletus ya untuk memperlihatkan ada lho jenis lain selain batik," kata Wina.

Kehadiran penenun tradisional, kata Wina, sangat menarik. Sebab pengunjung tidak hanya sekadar membeli tapi juga mengerti bagaimana prosesnya, khususnya untuk generasi milenial. "Kita kasih perhatian lebih lah, ini jauh-juah datang dari Maumere buat sharing ilmu juga kan," tambah Wina.

Salah seorang pengunjung, Nouvia mengaku senang ada pameran yang tak hanya memfasilitasi pengusaha kerajinan kain menjual dagangannya, tapi juga menghadirkan pengrajin tenun tradisional.

Sebagai anak muda, ia menjadi tergerak untuk bisa mengenal lebih jauh budaya Indonesia. Meskipun ia berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang juga memiliki tradisi tenun kain, namun ia mengakui tak bisa menenun.

"Aku aja enggak bisa walaupun dari Lombok. Ini bagus banget jadi kita yang muda kalau bisa terus melestarikan," kata Nouvia.

Melihat banyaknya kain cantik yang dipajang, Nouvia mengaku bingung dalam memilih. Menurutnya, karena ini dikerjakan secara menual dan rumahan, tiap motif yang dihasilkan pasti berbeda-beda. "Bingung aku, maunya kalap aja. Bagus-bagus kan handmade juga ini," katanya.

Tag: becak di jakarta

Bagikan: