Mau Jadi Penerjemah Buku? Ini Syaratnya

Tim Editor

    Sedang memuat podcast...

    Ilustrasi (Lubos Houska/Pixabay)

    Bandung, era.id – Bingung menentukan pilihan pekerjaan? Mungkin jadi penerjemah naskah buku bisa jadi pilihan yang menarik. Pekerjaan ini menuntut pergulatan dengan buku setiap harinya. Hasilnya, kamu akan melahirkan karya terjemahan yang dibaca banyak orang.

    Untuk mengetahui seluk beluk dunia terjemahan, Septina Ferniati, penerjemah freelance, membeberkan pengalamannya. Septina lebih banyak menggarap karya sastra, di antaranya, Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas karya V.S Naipaul, No One Here Gets Out Alive (biografi Jim Morrison) bersama Herry Mardian, dan Dead Poets Society.

    Di awal-awal melakukan pekerjaan terjemahan pada tahun 2000, Septina mengaku cuma dapat honor Rp5.000 per lembarnya. "Itu pun kadang pembayarannya dicicil tiga kali," tutur Septina, saat diskusi “Seluk Beluk Dunia Penerjemahan Masa Kini” di sela acara Soemardja Book Fair ITB, baru-baru ini.

    Pekerjaan tersebut terus ia geluti dengan kesabaran berlipat. Satu hal yang penting dalam pekerjaan terjemahan ialah kesabaran, selain kemampuan menguasai bahasa asing, terutama Inggris dan bahasa Indonesia. Syarat lainnya, tentu saja harus gemar membaca. Kerena menerjemahkan berarti membaca teks-teks yang akan dialihbahasakan.

    Proses membaca pun tak bisa selintas-selintas, tapi perlu dilakukan berulang-ulang. Selama membaca, Septina biasa menandai kata atau struktur kalimat yang susah. Misalnya saat menerjemahkan Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas, ia menemukan kata yang sulit ditemukan di kamus Inggris, arti kata tersebut kemudian ditemukan di perpustakaan India. Untuk diketahui, penulis novel Sepetak Rumah untuk Tuan Biswas, V.S Naipaul berasal dari India.


    Ilustrasi (Lil_foot_ dari Pixabay)

    Perempuan berkerudung yang gemar membaca sejak kecil itu bilang, naskah paling sulit diterjemahkan ialah buku teknik atau eksak. Ini karena ia terbiasa dan lebih asyik menerjemahkan buku sastra yang bahasanya lebih imajinatif.

    "Tantangan saya buku teknik, karena kaku banget, rigid. Saya terbiasa dengan sastra, begitu menerjemahkan buku teknik saya mati gaya," katanya.

    Selama kerja sebagai penerjemah lepas, Septina banyak mengalami suka maupun duka. Sukanya, antara lain, ketika menerima honor. "Banyak sukanya, senang pas bagian transfer segar banget, kayak ada darah segar," tuturnya.

    Honornya tidak lagi Rp5.000 per lembar naskah. Dalam satu buku ia pernah menerima belasan sampai puluhan juta dengan lama pengerjaan lebih dari sebulan. Namun pengalaman dukanya pun tidak kecil. Ia sampai harus menolak banyak tawaran penerbit yang meminta menerjemahkan naskah demi menjaga kesehatan matanya.

    Dokter menyarankan agar ia mengatur kerjanya, yakni dengan mengurangi jumlah naskah terjemahan. Bahkan dokter memintanya agar tidak menerjemahkan naskah yang tebalnya lebih dari 100 lembar.

    Gangguan penglihatan yang dialami Septina memang tak lepas dari cara kerjanya. Ia biasa kerja malam sampai subuh, ketika anaknya tidur. Pekerjaan menerjemahkan kadang membuatnya lupa waktu dan harus mengorbankan waktu untuk kegiatan lainnya. 

    "Belakangan setelah sakit saya lebih tahu diri saja, di bawah 100 halaman masih bisa," kata perempuan berkacamata ini. "Beberapa penerbit kasih novel pun aku tolak."

    Intinya, lanjut Septina, seorang penerjemah harus mampu mengatur diri dan waktu. Jika semua energi dan waktu dicurahkan dalam satu pekerjaan, bisa dipastikan pekerjaan yang menyenangkan pun malah berdampak negatif.

    Tag: buku risiko pekerjaan

    Bagikan :