Legislator PAN Sebut Simulasi Capres-Cawapres Sebagai Bentuk Keterbukaan Partai Politik: Publik Bisa Nilai Kelayakan Capres

| 27 Jul 2022 11:51
Legislator PAN Sebut Simulasi Capres-Cawapres Sebagai Bentuk Keterbukaan Partai Politik: Publik Bisa Nilai Kelayakan Capres
Ilustrasi pemilu (Dok. Antara)

ERA.id - Sejumlah partai politik mulai menyampaikan simulasi bakal calon presiden-calon wakil presiden (capres-cawapres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Anggota Komisi II Fraksi PAN DPR RI Guspardi Gaus menilai, langkah sejumlah partai politik itu patut diapresiasi. Sebab, hal ini merupakan bagian dari tranparansi dan tanggung jawab parpol terhadap konstituennya, sekaligus bentuk kesiapan parpol menghadapi Pilpres 2024.

"Penyampaian simulasi capres-cawapres merupakan bentuk keterbukaan dan itu sesuatu yang positif untuk memperkenalkan. Sehingga publik bisa menilai layak tidaknya calon yang ditawarkan oleh partai politik," kata Guspardi melalui keterangan tertulis, Rabu (27/7/2022).

Guspardi menekankan pemimpin yang terpilih tidak hanya dinilai dari prestasi yang ditorehkan. Tapi, harus dinilai dari berbagai aspek yang multidimensi atau mendekati figur sempurna.

Menurutnya, calon yang berprestasi belum tentu layak menjadi pemimpin, sedangkan pemimpin yang terpilih nanti memang benar-benar terpilih dan harus memenuhi berbagai syarat dan mempunyai ke kelebihan dalam berbagai bidang (mulitdimensi).

Oleh karena itu, partai politik kita tidak boleh bersikap apriori dan siapa pun yang diajukan harus direspons sebagai sesuatu yang positif.

"Ini juga sebagai bentuk keterbukaan partai dalam memberikan pendidikan politik. Bentuk akuntabilitas agar tidak pilih kucing dalam karung," katanya.

Sebelumnya, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, ketika menyoroti dinamika politik yang kerap membahas isu capres dan cawapres serta koalisi untuk Pilpres 2024, menegaskan bahwa sosok pemimpin harus memiliki prestasi.  

Menurut Hasto, sebelum berbicara soal penjodohan capres-cawapres, harus mengetahui soal rekam jejak prestasi sosok pemimpin tersebut.

"Ada (yang) menjodoh-jodohkan (capres-cawapres), lalu kami bertanya mereka yang menjodohkan itu, harusnya juga memahami apa prestasinya," kata Hasto

Rekomendasi