Waspada Golput di Pilpres 2019    

| 17 Aug 2018 13:29
Waspada Golput di Pilpres 2019    
Ilustrasi (era.id)
Jakarta, era.id - Joko Widodo dan Prabowo Subianto menjadi rival di Pemilu Presiden 2019. Rivalitas ini mengulang pertarungan Pilpres 2014. 

Keduanya juga sudah menunjuk pendampingnya masing-masing. Namun, pilihan mereka ternyata menimbulkan kekecewaan bagi sebagian pendukungnya. Kedua orang ini memiliki pendukung yang loyal sejak Pemilu 2014.

Sebut saja, para pendukung calon petahana Joko Widodo yang merasa bahwa calon wakil presiden yang dpilih, yaitu Ma'ruf Amin, tidak sesuai dengan prediksi mereka. Sebab, banyak pendukung Jokowi yang berharap yang Mahfud MD menjadi cawapresnya. 

Begitu pun para pendukung calon presiden Prabowo Subianto yang berharap agar ia memilih rekomendasi itjima ulama sebagai wakilnya, namun, ternyata dia justru memilih mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Kekecewaan ini sempat terekam di Twitter. Sejumlah warganet yang kecewa memutuskan untuk menjadi golongan putih (golput) alias tidak mau menggunakan hak pilihnya pada saat pencobolosan nanti.

Menurut pengamat politik Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, rasa kecewa ini wajar saja terjadi. Banyak orang yang kaget dengan pilihan Jokowi dan Prabowo terkait pendamping masing-masing.

 

"Ya itu reaksi kekagetan menurut saya tapi kalau ada pendekatan yang lebih massive dari kubu Pak Jokowi, sebab, bukan hanya kubu Pak Jokowi saya rasa. Kubu Pak Prabowo juga mengalami hal yang sama termasuk soal mereka yang mengalami kekecewaan karena Prabowo tidak menggunakan (rekomendasi) ijtima ulama dan tidak dijadikan dasar oleh Pak Prabowo," kata Ray saat diwawancarai era.id di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Kamis (16/8/2018).

Ray juga bilang, kalau sebenarnya yang perlu waspada soal golput adalah kubu Jokowi. Sebab, kekecewaan di kubu itu sangat kentara lantaran Jokowi memilih Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Apalagi pendukung Jokowi beririsan dengan pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Pendukung Ahok ini cukup resisten dengan Ma'ruf.

Sementara, menurut Ray, kubu Prabowo bisa lebih legawa, meski cawapresnya bukan berasal dari rekomendasi ijtima ulama.

"Catatan saya kemungkinan besarnya golput itu datangnya dari kubu Pak Jokowi, kalau dari kubu Pak Prabowo saya rasa enggak terlalu banyak implikasinya. Jadi potensi golput akan lebih tinggi ke Pak Jokowi sepertinya dibandingkan di Pak Prabowo," kata dia.

 

Ray menyarankan, kedua pasangan calon ini melakukan pendekatan kembali agar angka golput tadi bisa berkurang. Ray bilang, diskusi adalah cara terbaik untuk kembali mempertahankan pendukung mereka yang mengancam golput. 

"Pendekatan. Ya pendekatan kultural dan emosional seperti diajak berdialog kembali, diberikan pemahaman, diskusi, yakinkan kalau tujuan awal tidak akan berubah sekalipun yang dipilih figurnya adalah yang bersangkutan," jelas Ray. 

Tapi, jangan khawatir meskipun banyak warganet yang secara  terang-terangan menyebut mereka akan golput namun cukup banyak juga warganet lain yang menyuarakan dan menyuarakan untuk tetap memilih di Pilpres 2019.

Tags : pemilu 2019
Rekomendasi