4 Tahun 4 Ketua DPR

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Bambang Soesatyo (Puty/era.id)

Jakarta, era.id - Tahun berganti, begitu juga kursi Ketua DPR. Dan Golkar selalu sibuk dalam menyiapkan orang nomor satu di DPR itu.

Semua berawal dari 2 Oktober 2014 silam. Lewat perdebatan super panjang di parlemen, malah hingga lewat tengah malam, komposisi pimpinan DPR melalui Koalisi Merah Putih terpilih. Setya Novanto sebagai Ketua DPR, wakilnya Agus Hermanto, Taufik Kurniawan, Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Saat itu Pimpinan DPR sementara Popong Otje Djunjunan atau Ceu Popong yang mengesahkan formasi ini.

Baru setahun berjalan, kursi Pimpinan DPR digoyang. Lewat cerita 'papa minta saham' yang dibongkar Menteri ESDM terdahulu, Sudirman Said, Novanto tumbang. Dia mundur sebelum Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang memeriksa perkara Novanto mengeluarkan keputusan. 16 Desember 2015, melalui surat resmi, dia menyatakan mundur.

Kursi Ketua DPR kemudian beralih ke Ade Komaruddin. Mereka tukar posisi. Novanto 'turun kasta' menjadi Ketua Fraksi Golkar. Peristiwa itu terjadi pada 11 Januari 2016. Tapi jabatan Ade tidak berlangsung lama. Golkar kembali bergejolak dan Novanto menang lagi.

Kurang dari setahun setelah dilantik, 30 November silam, Novanto kembali berkuasa. Posisi Ade Komaruddin dilengserkan. Novanto kembali dilantik menjadi Ketua DPR dan Ade tidak hadir saat itu. Nama Novanto yang tercoreng di kasus 'papa minta saham' dibersihkan MKD. Soalnya Mahkamah Konstitusi menolak rekaman suara masuk kategori sebuah bukti. Kebetulan dalam kasus 'papa minta saham', rekaman milik Sudirman Said jadi senjata untuk menjatuhkan Novanto.

Masih dalam kurun waktu kurang dari setahun, kursi Ketua DPR kembali panas. Kali ini peluru yang digunakan adalah kasus e-KTP. KPK hakul yakin kalau Ketua Umum Golkar ini terlibat banyak di mega korupsi itu. Awalnya Novanto berhasil lolos dari jeratan KPK melalui sidang praperadilan dengan selingan 'drama' masuk rumah sakit.



Tapi KPK tidak kibarkan bendera putih. Genderang perang kembali ditabuh dengan menjerat lagi Novanto sebagai tersangka. Sadar ruang geraknya makin sempit, dimulailah kisah drama yang akhirnya menyeret dokter RS Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo juga sebagai tersangka.

Setelah ditahan, Novanto lalu mengajukan surat pengunduran diri yang kedua kali. Tapi kali ini dia menunjuk secara sepihak Azis Syamsuddin sebagai penggantinya. Nama terakhir langsung mendapat perdebatan keras dari parlemen, termasuk internal Golkar.

Dan kini akhirnya Bambang Soesatyo yang mengisi kursi panas itu. Periode parlemen masih panjang, lebih dari setahun. Mungkinkah masih ada lagi cerita pergantian Ketua DPR atau hanya berhenti saja di nama Bambang Soesatyo?

Tag: ketua dpr golkar setya novanto bambang soesatyo

Bagikan: