Ada Ancaman Pencabutan KJP untuk Pelajar yang Ikut Demo

Tim Editor

Pelajar melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR. (Wardhany/era.id)

Jakarta, era.id - Massa pelajar melakukan aksi di depan gedung DPR, kemarin. Aksi mereka berujung rusuh dan mengakibatkan beberapa fasilitas umum rusak serta terbakar.

Massa pelajar ini datang dari berbagai daerah di Jabodetabek. Mereka datang setelah mendapatkan pesan berantai ajakan demonstrasi di media sosial dengan tagar #STMmelawan dan #STMbergerak.

Khusus pelajar dari Jakarta, ada ancaman buat mereka ketika terlibat aksi vandal. Mereka bisa disanksi pencabutan Kartu Jakarta Pintar plus.

Pada Pasal 32 Peraturan Gubernur Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Kartu Jakarta Pintar plus, disebutkan 'peserta didik penerima KJP Plus dilarang terlibat dalam kekerasan/bullying, terlibat tawuran, terlibat geng motor/geng sekolah, terlibat perkelahian, menyebarluaskan gambar tidak senonoh baik secara konvensional manpun melalui media online, melakukan perbuatan yang melanggar peraturan tata tertib sekolah/peraturan sekolah, dan beberapa larangan lainnya'. 


Pelajar melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR. (Wardhany/era.id)

Namun, Pemprov DKI Jakarta belum punya langkah tegas untuk menindak para pelajar yang terlibat aksi demonstrasi berujung ricuh di Gedung DPR ini. 

Kepala Dinas DKI Ratiyono saat dihubungi era.id mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sedang menelaah secara mendetail peristiwa kerusuhan tersebut. 

"Nanti kita lihat dulu permasalahannya. Ini masih berlanjut, masih berproses. Mereka ikut-ikutan aja. Nanti kita sedang cek secara detail," kata dia.

Sementara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sedang melakukan pendataan terhadap siswa yang ikut aksi tersebut. Dia juga meminta, kepala sekolah memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

"Mengenai siswa, saat ini sedang dilakukan pendataan, yang kedua kepala sekolah itu bertanggung jawab untuk memastikan proses belajar mengajar berjalan," kata Anies.

Selain itu, Anies juga meminta orang tua memantau kegiatan anak-anaknya. Dia tak ingin ada pelajar yang keberadaannya tidak jelas usai aksi, kemarin.

"Pagi ini saya instruksikan untuk melakukan pengecekan dan memastikan semua anak di Jakarta terdeteksi posisinya di mana. Jangan sampai ada anak yang hilang. Orang tua mencari, pihak sekolah mencari, makanya kita lakukan cacah jiwa," tuturnya.


Pelajar melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR. (Wardhany/era.id)

Pada Rabu (25/9) siang, rombongan pelajar berbaju pramuka dan putih abu-abu datang ke Gedung DPR RI. Mereka datang untuk berdemo, meski tak jelas tuntutan mereka.

Aksi pelajar ini sempat rusuh. Belum diketahui pemicunya, tiba-tiba mereka melempar polisi dengan batu-batuan. Selain itu, siswa STM ini juga melempar kembang api kepada polisi yang berjaga. 

Tak lama kemudian, polisi yang tadinya persuasif mengubah strategi mereka menjadi represif. Aparat menembakkan gas air mata dan menembakkan water canon ke arah pelajar. 

Namun, gas air mata dan semprotan water canon ini dilawan dengan batu dari pelajar.  Peristiwa in membuat macet jalan tol di sekitar jembatan layang Slipi. 

Aksi ini terjadi hingga malam hari. Imbasnya juga, sejumlah fasilitas umum rusak dan terbakar.

Hasil penelusuran Komisi Perlindungan Anak Indonesia, pelajar mengaku ikut demo karena ajakan dari media sosial, dan sebaran grup aplikasi perpesanan. Bahkan, ada pelajar yang diajak teman untuk membolos sekolah demi bisa ikut demo.

Sementara, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, sebanyak 570 pelajar dari berbagai sekolah  ditangkap akibat peristiwa ini. Mereka melakukan pembinaan terhadap para siswa di Polda Metro Jaya dan telah dijemput oleh orang tuanya.

Tag: pelajar indonesia demo pelajar pemprov dki jakarta

Bagikan: