Melacak Pemilik Peluru Tajam Saat Demo di Kendari

Tim Editor

Ilustrasi (Skitterphoto/Pixabay)

Jakarta, era.id - Enam personel kepolisian yang membawa senjata api (Senpi) saat bertugas mengamankan unjuk rasa mahasiswa di depan DPRD Sulawesi Utara, diperiksa Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri. Saat itu, unjuk rasa berakhir dengan kericuhan dan menyebabkan tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari.

"Kami tetapkan enam anggota jadi terperiksa karena saat unjuk rasa membawa senjata api," ujar Kepala Biro Provost Divisi Propam Mabes Polri, Brigjen Hendro Pandowo, melalui siaran pers, Kamis (3/10/2019).

Tim investigasi masih melakukan pemeriksaan terhadap keenam polisi berinisial DK, GM, MI, MA, H, dan E tersebut. Keenam polisi itu diketahui membawa pistol jenis S&W dan HS. Padahal sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian sudah mewanti wanti agar anggotanya tak membawa senpi saat mengamankan aksi unjuk rasa.

"Ini kami dalami, kenapa senjata itu dibawa saat pengamanan unras (unjuk rasa), padahal sudah disampaikan oleh Kapolri untuk tidak bawa senjata," sambungnya.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Pol Asep Adi Saputra menyatakan keenam anggota Polres Kendari itu dari unit reserse dan intelkam. Hingga kini, mereka masih berstatus terperiksa di Mapolda Sultra. 


Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra. (Foto: Istimewa)

"Mereka dari petugas yang sifatnya tertutup, dari reserse dan intelijen," katanya di Mabes Polri, Kamis (3/10/2019).

Sementara itu, Komisi kepolisian Nasional (Kompolnas) masih menunggu hasil penyelidikan Propam. Kompolnas meminta pelaku selain dihukum secara kode etik, juga mendapatkan hukuman lain.

"Bisa juga larangan untuk ditugaskan yang berhubungan dalam masyarakat secara langsung," ujar Komisioner Kompolnas Andrea H Poeloengan kepada era.id, Kamis (3/10/2019).

Berdasarkan peraturan, Polisi boleh membawa senpi saat pengamanan unjuk rasa (unras). Namun tergantung satuan kerja polisi tersebut dan kebijakan penanganan unras.

"Boleh. Tapi situasional tergantung dari Satker (satuan kerja) apa dia, lalu bagaimana kebijakan pada saat penganan unras tersebut. Jika dikaitkan dengan kasus Kendari, maka karena kebijakan pimpinan tidak boleh bawa senpi atau yang berpeluru karet, maka jelas dia melanggar," ucapnya.

Tim Mabes Polri kini telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa senjata saat pengamanan demo mahasiswa. Dalam olah TKP polisi menemukan tiga buah selongsong peluru di saluran drainase di depan kantor Disnakertrans Sultra, Sabtu (28/9).

Seperti diketahui Randi tewas tertembak dalam demo berujung bentrok dengan polisi di depan Gedung DPRD Sultra, Kendari, Kamis (26/9). Gabungan tim dokter forensik yang melakukan otopsi memastikan Randi tewas karena luka tembak.

Tag: pembunuhan demo

Bagikan: