Terobos Pelosok Demi Selamatkan Asmat

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Menteri Kesehatan, Nila F Moeloek (Fitria/era.id)

Jakarta, era.id - Setelah wacana relokasi penduduk Asmat dibatalkan, pemerintah kembali pada rencana semula, yakni menerobos medan maha berat menuju Kabupaten Asmat, demi menyelamatkan anak bangsa dari ancaman kematian akibat gizi buruk dan wabah campak.

Sejak September 2017, gizi buruk dan wabah penyakit di Asmat semakin parah. Hingga 24 Januari 2018, kejadian luar biasa (KLB) ini telah mengakibatkan 70 korban jiwa. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. Sebanyak 65 orang meninggal akibat gizi buruk, empat orang terkena campak dan satu lainnya terjangkit tetanus.

Pemerintah dianggap lalai mendeteksi kejadian ini. Mengecewakan memang. Namun, apa boleh dikata. Syukurlah, sebab akhirnya pemerintah bereaksi.

Menurut Menteri Kesehatan (Menkes), Nila F Moeloek, 39 tenaga kesehatan yang terdiri dari sebelas dokter spesialis, empat dokter umum, tiga perawat, dua tenaga anestesi dan 19 ahli, mulai dari ahli gizi, kesehatan, lingkungan hingga tim pendata (surveilans) telah dikirim pada 16 Januari 2018.

Rombongan tersebut datang dengan membawa 142,2 kg obat-obatan ke Asmat. Total, sudah 1,2 ton obat dikirim dari Jawa ke Sawa Erma, Kolof Brasa dan Pulau Tiga, distrik-distrik terdampak paling parah di Kecamatan Agats, Asmat.

Obat dikirim ke sejumlah distrik di kecamatan yang paling banyak terdampak campak dan gizi buruk, Kecamatan Agats, Kabupaten Asmat. Bantuan obat-obatan dikirimkan ke Distrik Sawa Erma, Kolof Brasa, dan Pulau Tiga. 

"Obat-obatan tersebut di antaranya berupa amoksilin, salep anti bakteri, parasetamol, infusion, vitamin dan obat-obat lainnya yang dikemas dalam bentuk tablet, kapsul, botol dan boks," ungkap Nila saat ditemui era.id di Diskusi Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat Papua, di Gedung Kominfo, Jakarta Pusat, Senin (29/1/2018).

Selanjutnya, pada 26 Januari, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kembali menerjunkan tim Flying Health Care (FHC). Di sana, tim yang beranggotakan enam orang tenaga kesehatan ini akan bertugas selama sepuluh hari.

Tim FHC akan terus ditugaskan secara bergantian selama tiga bulan ke depan. Setiap tim akan bekerja selama sepuluh hari, untuk kemudian digantikan dengan tim lain yang diberangkatkan silih berganti.

"Selanjutnya, tengah dipersiapkan sembilan gelombang FHC yang akan berlangsung (bertugas) sekitar tiga bulan," kata Nila.

Tiga langkah selamatkan Asmat

Lebih lanjut, Nila memaparkan tiga hal yang perlu dilakukan untuk menanggulangi KLB di Asmat. Pertama adalah hal terkait fasilitas kesehatan, misalnya penyediaan puskesmas hingga rumah sakit secara berjenjang, obat-obatan dan alat kesehatan, hingga sumber daya manusia, yang dalam hal ini berarti tenaga medis.

Hal kedua yang harus dilakukan, menurut Nila adalah perbaikan tata kota. Tata kota Asmat yang terisolir dan banyaknya bangunan yang tak memenuhi standar kesehatan membuat masyarakat mudah terserang penyakit.

"Tata ruang kota, kalau kayak gitu enggak mungkin berkembang. Kalau air pasang atau surut, itu segala macam kotoran masuk ke rumah. Jalan beton masih sedikit," papar Nila.

Selain dua hal di atas, membangun sektor ketahanan pangan juga menjadi hal krusial untuk menyelamatkan Asmat. Karenanya, ia mendorong seluruh pihak untuk saling membahu membenahi persoalan Asmat.

"Ini manusia, kita harus menolongnya. Ibu-ibu kekurangan gizi, busung lapar, perutnya isinya cacing. Cacing pita pun ada, napasnya tersengal-sengal itu pasti TBC (Tuberkulosis). Diajak bicara susah sekali jawabnya," tuturnya.

Ia menegaskan, selain fasilitas kesehatan dan tata kota, penanggulangan Asmat juga perlu dilakukan dari sektor ketahanan pangan. Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini berkata, perlu koordinasi dari semua lapisan masyarakat untuk menanggulangi KLB Asmat.

Tag: asmat

Bagikan: