Hikmah Pandemi Korona di Mata Mas Mendikbud

Tim Editor

Mendikbud Nadiem Makarim (Gabriella Thesa/era.id)

Jakarta, era.id - Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei tahun ini terasa sepi. Tidak ada upacara atau acara yang digelar oleh para siswa dan guru, sebab semua fasilitas pendidikan tutup akibat pandemi global COVID-19.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan pesan khusus pada perayaan Hardiknas di tengah situasi pandemi. Meskipun harus menghadapi situasi sulit, tapi ada banyak hal yang bisa dipelajari juga diterapkan di hari-hari mendatang.

"Dari krisis ini kita dapat banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa kita terapkan dalam kondisi krisis dan setelahnya pun," ujar Nadiem melalui video yang ditayangkan BNPB, Sabtu (2/5/2020).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Bapak dan Ibu yang kami muliakan dan segenap insan pendidikan di tanah air, Selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020. Peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini harus kita lakukan di tengah pandemi COVID-19. Semoga kita semua diberikan kesehatan, kekuatan, dan semangat agar bisa melalui masa sulit ini. Saat ini kita sedang melalui krisis COVID-19. Krisis yang memakan begitu banyak nyawa. Krisis yang menjadi tantangan luar biasa bagi negara kita dan seluruh dunia. Tetapi, dai krisis ini kita mendapatkan banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa kita terapkan saat ini dan setelahnya. Untuk pertama kalinya, guru-guru melakukan pembelajaran secara daring atau online, menggunakan tools atau perangkat baru, dan menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran bisa terjadi di manapun. Orang tua, untuk pertama kalinya menyadari betapa sulit tugas guru. Betapa sulitnya tantangan untuk bisa mengajar anak secara efektif. Kemudian menimbulkan empati kepada guru yang tadinya mungkin belum ada. Guru, siswa, dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah saja. tetapi, pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi yang efektif dari tiga hal ini, guru, siswa, dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi. Bapak dan Ibu yang kami banggakan, Kita sebagai masyarakat juga belajar betapa pentingnya kesehatan. betapa pentingnya kebersihan. Betapa pentingnya norma-norma kemanusiaan di dalam masyarakat kita. Timbulnya empati, timbulnya solidaritas di tengah masyarakat kita pada saat pandemi COVID-19 ini merupakan suatu pembelajaran yang harus kita kembangkan. Bukan hanya di masa krisis, tetapi juga di saat krisis ini telah berlalu. Belajar memang tidak terlalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. inilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari COVID-19. Agar kita menjadi masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Terima kasih telah mengikuti anjuran Bapak Presiden untuk selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta tetap belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja. #Hardiknas2020

A post shared by Nadiem Makarim (@nadiem__makarim) on



adalah kreativitas guru dan orang tua ditantang demi mewujudkan pendidikan yang efektif bagi siswa dan anak-anaknya.

Dia mengatakan, untuk pertama kalinya para guru melakukan proses belajar mengajar secara daring dan menggunakan alat juga metode baru untuk membagi ilmunya.

"(Para guru) menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran bisa terjadi di mana pun," kata Nadiem.

Untuk para orang tua, juga tak kalah menantang. Sebab untuk pertama kalinya juga orang tua menyadari betapa sulit tantangan dan tugas untuk mengajar anak secara efektif. Dengan begitu, para orang tua jadi memiliki empati kepada guru-guru.

Baik guru, siswa, maupun orang tua saat ini menyadari bahwa pendidikan bisa dilukakan tidak hanya dari dalam kelas-kelas gedung sekolah, tapi di mana saja.

"Tapi pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi dari tiga pihak ini. Tanpa kolaborasi itu pendidikan yang efektif itu tidak akan terjadi," kata pria yang akrab disapa Mas Menteri ini.

terakhir, Nadiem mengingatkan bahwa masyarakat juga belajar mengenai pentingnya kesehatan, kebersihan, dan norma-norma kemanusiaan di dalam masyarakat.

Timbulnya empati dan solidaritas di masyarakat pada saat pandemi ini merupakan suatu pembelajaran yang harus terus dikembangkan pun setelah masa krisis ini berlalu.

"Belajar memang tidak selalu mudah, tapi ini saatnya kita berinovasi, bereksperimen, mendengarkan hati nurani kita dan belajar dari COVID-19 agar kita, masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan," ucapnya.

Tag: riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: