Tiga Penyebab Melonjaknya Kasus COVID-19 di Jabar

Tim Editor

    Ilustrasi tes covid (Dok. Humas Pemprov Jabar)

    Bandung, era.id – Pakar epidemologi menyebut, ada tiga sebab mengapa lonjakan kasus infeksi virus  COVID-19 di Jawa Barat (Jabar) melonjak hampir mencapai 5.000-an.

    Pertama, laju infeksi memang sedang terjadi. “Prediksi kami menunjukkan satu bulan ke depan masih akan naik,” kata pakar epidemiologi, Prof. Bony Wiem Lestari, yang juga staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Minggu (12/7/2020).

    Kedua, efek peningkatan tes masif. Saat ini Jabar sedang mengejar target WHO tes uji usap (tes swab/PCR) 1 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 500.000.

    Minggu ini, uji usap di Jabar sudah di angka 78.000. "Makin banyak yang dites, makin banyak temuan positif, makin bagus untuk pelacakan,” jelas Bony.

    Ketiga, pelimpahan administrasi. Jabar berpotensi menerima limpahan kasus dari provinsi lain, dalam arti tertular di provinsi lain, tapi karena KTP-nya Jabar, maka dihitung sebagai kasus warga Jabar.

    Di tengah tren meningkat kasus positif di Jabar, Bony mengimbau masyarakat kembali mendisiplinkan diri menerapkan protokol kesehatan COVID-19 seperti memakai masker dan jaga jarak, sebab dapat mencegah penularan.

    Data terakhir, kasus positif di Jabar sebanyak 4.951. “Tidak beda jauh dengan estimasi kami di angka 5.000 kasus positif,” ujarnya. Lonjakan ini diprediksi masih akan terjadi.

    Bony berharap masyarakat seharusnya membaca secara bijak data yang tersaji, agar tidak ada mispersepsi dan salah menyikapi.

    Fakta di lapangan, para pakar sebetulnya kesulitan menentukan kurva penularan apakah Indonesia saat ini telah melewati gelombang pertama COVID-19 atau belum.

    Syarat untuk menentukan kurva adalah kapasitas tes masif yang baik. Di awal wabah terjadi tes masif, tapi belum sebaik seperti saat ini.

    “Sebenarnya agak sulit menentukan kurva apakah kita masih first wave (gelombang pertama) atau menyongsong second wave (gelombang kedua),” ungkapnya.

    Dalam situasi seperti ini, Bony merekomendasikan beberapa hal untuk dilakukan pemerintah daerah. Pertama, pemda harus memastikan institusi atau organisasi di bawahnya lebih rajin turun ke lapangan, mengecek ventilasi udara berfungsi baik, serta disinfeksi alat pendingin udara (AC) baik di kantor, pabrik, bioskop, mal, pesantren, asrama dan tempat berisiko tinggi lainnya.

    “Ada wabah yang sumbernya dari AC, itu sempat outbreak di Amerika. Jadi radang pernapasan akut ternyata sumbernya adalah AC. Jadi harus lebih sering bersih-bersih,” ungkap Bony.

    Kedua, pemda harus menyediakan sistem pelayanan kesehatan dan SDM memadai mengantisipasi ledakan pasien. “Kalau ada peningkatan kasus dan misalnya semua harus dirawat, apakah tempat tidur di rumah sakit dan tenaga medis cukup? Ini harus disiapkan pemerintah.”

    Pada saat yang sama, pemda juga perlu memperkuat edukasi masyarakat tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Menurut Bony, betapa pun pemerintah mewajibkan banyak hal, tapi kalau masyarakatnya tidak patuh, tetap akan sulit berjalan.

    “Ini momen kita introspeksi apakah sudah menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Saling mengingatkan satu sama lain, karena dengan itu kita bisa kuat,” katanya.

    Penularan udara

    Pada kesempatan yang sama, Prof Bony juga menjawab sekaligus meluruskan isu beredar di masyarakat bahwa COVID-19 dapat ditularkan melalui transmisi udara.

    Menurutnya, WHO selalu memuktakhirkan berbagai informasi terkait penularan COVID-19 dan bagaimana protokol kesehatan itu dijalankan di seluruh dunia.

    Dia menegaskan, penularan melalui udara dimungkikan terjadi di fasilitas kesehatan seperti ruang isolasi.

    “Metode transmisi airborne hanya dimungkinkan terjadi di setting (tempat) yang spesifik, bukan di tempat umum,” tegasnya.

    Bony menuturkan, saat ini WHO masih belum menemukan bukti bahwa penularan melalui udara ini dapat terjadi di tempat-tempat yang lain. Sementara penelitian valid masih belum keluar, maka pemerintah masih menggunakan protokol kesehatan WHO yang lama.

    Dari informasi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama di fasilitas kesehatan COVID-19 yang terdiri dari ring 1, ring 2, ring 3. Hal ini menjadi peringatan bagi tenaga medis seperti dokter, perawat, maupun oleh keluarga terdekat pasien.

    “Kapan tenaga medis harus pakai masker surgical, N95, APD Level 3 misalnya? Ini betul -betul memperingatkan teman-teman kesehatan harus disiplin menegakkan protokol kesehatan untuk perlindungan dirinya,” sebutnya.

    Meski begitu, WHO juga memperingatkan masyarakat harus sangat berhati-hati berada di tempat dalam ruangan, banyak orang, dan ventilasi udaranya jelek. "Karena ada potensi munculnya wabah di sana," tandas Bony.

    Tag: covid-19 di indonesia

    Bagikan :