Jakmania Jawab Tudingan Soal Kerusakan GBK

| 23 Feb 2018 09:29
Jakmania Jawab Tudingan Soal Kerusakan GBK
Stadion GBK (Foto-foto: Yohanes/era.id)
Jakarta, era.id - Hari ini, lini masa Twitter diramaikan oleh kampanye perdamaian yang dilemparkan oleh The Jakmania. Lewat akun resmi @InfokomJakmania, fanbase klub ibu kota, Persija Jakarta ini menyuarakan perdamaian dalam olahraga sepak bola.

Dalam sebuah video, Jakmania menampilkan vox pop yang menghimpun pernyataan para suporter yang bersuara, bahwa sepak bola adalah bahasa persatuan, yang harus dinikmati tanpa permusuhan apalagi kekerasan.

 

Jakmania nampaknya gerah, terus menerus disudutkan sebagai biang kerok aksi perusakan sejumlah fasilitas Stadion Gelora Bung Karno (GBK) saat laga puncak Piala Presiden 2018 antara Persija dan Bali United.

Berharap pada media massa pun rasanya sia-sia. Sebab pemberitaan yang beredar justru membuat Jakmania makin terpojok. Akhirnya, kampanye perdamaian lewat media sosial itulah yang mereka pilih sebagai cara untuk menunjukkan jati diri Jakmania yang cinta damai.

"Tidak ada kita bicara memang (di media massa). Karena tidak ada juga yang berusaha mengklarifikasi ke kita. Tidak ada yang bertanya pada kita," tutur Febri, yang telah belasan tahun bergabung bersama Jakmania. 

Febri bukan orang baru di Jakmania. Ia juga bukan orang asing di kalangan Jakmania. Febri pernah menjabat salah satu posisi tertinggi di kepengurusan pusat.

Pertandingan antara Persija dan PSMS Medan di medio tahun 1980-an adalah laga pertama klub ibu kota yang ia saksikan langsung di Stadion Utama Senayan, Jakarta Selatan kala itu.

Febri telah jadi saksi atas ratusan laga Persija, kala kandang ataupun saat tandang. Dan laga terakhir Persija di GBK kemarin cukup membekas baginya. Meski piala kemarin bukan piala paling bergengsi yang dimenangi Persija. Dan akhir laga kemarin juga bukan yang paling ricuh sepanjang pengalamannya.

Tapi, 'gorengan' media massa terkait isu kerusakan GBK sangat mengganggunya dan sebagian besar Jakmania. Bahkan kemarin, sebuah tagar berisi ajakan menggeruduk salah satu kantor media massa begitu ramai di lini masa Twitter. Terkait tagar itu, pengurus pusat Jakmania tak memberi keterangan apapun.

Klarifikasi

Terkait seluruh peristiwa perusakan yang terjadi di hari-H, Febri mengklarifikasi. Menurutnya, kerusakan beberapa segmen pagar pembatas akrilik di tribun utara terjadi jauh sebelum kick off dimulai. Dan menurut Febri yang kala itu berada di tribun selatan, posisi pagar pembatas yang rusak berada di area yang ditempati suporter Bali United. Jadi, ia menolak keras jika Jakmania disebut sebagai pelaku perusakan pagar pembatas di area itu.

Lalu, terkait rusaknya rumput akibat diinjak-injak puluhan Jakmania yang merangsek masuk lapangan usai laga, Febri menyebut hal tersebut sebagai hal yang wajar. Hal itu, dikatakan Febri merupakan reaksi spontan yang timbul akibat euforia dan kebahagiaan membuncah yang dirasakan Jakmania, setelah sekian tahun lamanya Persija puasa gelar.

 

Soal kerusakan sejumlah pagar besi dan gerbang masuk nomor 7 dan 9 stadion, Febri mengakui hal tersebut sebagai suatu hal yang di luar kontrol. Namun menurutnya, aksi itu sejatinya dipicu kekecewaan lantaran hasrat mereka menyaksikan laga Persija tak kesampaian.

Bukan cuma soal tiket yang habis, kata Febri. Tapi juga soal fasilitas luar stadion yang disediakan penyelenggara yang jauh dari memadai. Berdasar hasil observasi pengurus Jakmania, penyelenggara hanya menancapkan dua layar, di mana salah satu layar yang dipasang tak bisa dioperasikan. Padahal, jumlah penonton yang tak kebagian tiket mencapai ribuan orang.

Layar nobar terlihat mati (Sumber: Istimewa)

Hal lain yang juga ramai diberitakan media massa adalah soal kerusakan kursi lipat. Hal tersebut sejatinya sudah diklarifikasi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono dan Direktur Utama GBK, Winarto. Menurut keduanya, tak ada satu pun kursi lipat yang rusak.

Bahkan, soal kerusakan kursi, Winarto menyebut kerusakan lebih parah terjadi saat pertandingan persahabatan antara Indonesia dan Islandia, di mana saat itu dua kursi rusak akibat diinjak suporter.

Pembinaan suporter

Soal ini, Febri sepakat, bahwa pembinaan terhadap suporter sangat penting. Dan bahwa suporter harus dididik untuk menikmati sepak bola dengan cara yang damai dan asyik, Febri juga setuju.

Namun, tentu hal itu tak mudah. Seperti yang dikatakan Sosiolog Universitas Negeri Malang, Abdul Kodir yang menyebut aksi rusuh yang dilakukan suporter sering kali dipicu oleh aksi orang per orang yang menular secara berantai dan berubah menjadi aksi kerumunan masa, yang dalam ilmu sosiologi tergambar dalam teori kerumunan massa.

Karenanya, Abdul mendorong para pengurus basis suporter untuk merangkul sebanyak mungkin individu suporter ke dalam sistem yang dibangun oleh kepengurusan. Setelah itu, semangat untuk menikmati sepak bola yang penuh damai dapat dibangun lewat sistem pendidikan dan peneladanan.

"Sebetulnya memang pendidikan suporter itu perlu. Artinya, sebaiknya memang suporter itu sistem sel, bukan tunggal. Ada yang dari pendidikan, itu yang perlu ada upaya pendidikan," kata Abdul kepada era.id.

Yang jelas, Febri menegaskan bahwa semangat membangun iklim sepak bola yang bersih dari konflik telah dibangun di kalangan para suporter. Dan melihat fakta di lapangan, rasanya memang perlu komitmen super kuat plus kerja keras untuk membentuk sistem sel dan menghapus sistem tunggal, sebagaimana teori yang diucapkan Abdul. 

Sebab, kecintaan terhadap klub sepak bola sejatinya terbangun di dalam diri masing-masing individu suporter. Seperti yang dikatakan Febri, "ibarat sebuah taman, pasti ditumbuhi beberapa benalu yang menghinggapi bunga-bunga yang indah."

Rekomendasi