Bahaya Narkoba Kimia Ancam Indonesia

Tim Editor

Sitaan sabu Kapal Sunrise Glory (Foto: Rakaputy/era.id)

Jakarta, era.id - Dalam satu bulan terakhir, aparat gabungan yang terdiri dari Bea Cukai, Mabes Polri dan TNI AL mengintersep tiga upaya penyelundupan sabu-sabu masuk Tanah Air. Tak main-main, dari tiga kapal, dua membawa muatan lebih dari satu ton.

Kawasan perairan di Kepulauan Riau jadi pintu masuk ketiga kapal. Kapal Sunrise Glory yang membawa 1,29 ton sabu-sabu digiring ke Pulau Batam pada Rabu (7/2) dari Selat Philips di sekitar perairan Batam.

Tak lebih dari dua pekan setelah penangkapan Kapal Sunrise Glory, Selasa (20/2), giliran Kapal Min Yan Yuyung berbendera Singapura ditarik bersandar setelah ditangkap di perairan Anambas. Dari hasil pemeriksaan, petugas menemukan 1,6 ton sabu-sabu di kapal itu.

Dua hari lalu, Jumat (23/2), petugas gabungan dikabarkan kembali menangkap sebuah kapal di perairan Selat Philips. Kapal ikan Myanmar berbendera Taiwan bernama Win Long itu diduga membawa tiga ton sabu.

Usai dipaksa bersandar di Dermaga Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Khusus Kepulauan Riau, petugas langsung memeriksa muatan kapal bernomor lambung BH 12998 tersebut, Jumat dini hari pukul 02.00 WIB. Pemeriksaan sempat dihentikan dan kembali dilanjutkan Sabtu siang (24/2).

Berdasar informasi yang dihimpun, hingga Minggu siang (25/2/2018), petugas gabungan belum juga menemukan sabu-sabu. Berbagai kesulitan menghambat proses pemeriksaan badan kapal.

Muatan ikan beku yang dibawa Win Long diketahui mencapai 40 ton. Menurut perkiraan, seluruh muatan baru dapat dibongkar habis jika diangkut 40 truk. Anjing pelacak pun telah diterjunkan. Namun kristal kimia yang dimaksud belum juga ditemukan.

Semuanya masih belum jelas. Namun, kabar menyebut, terdapat 28 anak buah kapal --termasuk nahkoda-- yang berlayar bersama Kapal Win Long yang aktivitasnya telah dipantau aparat sejak Desember 2017.

Yang jelas, ada upaya mengelabui yang dilakukan awak kapal. Sebab, sebelum dihentikan aparat, Kapal Win Long terdeteksi mematikan GPS sesaat setelah memasuki wilayah perairan Indonesia.

Ancaman 600 ton bahan baku sabu

Kemarin, Ketua DPR, Bambang Soesatyo memberi membocorkan informasi yang ia peroleh, soal operasi kapal-kapal pengangkut narkoba di perairan Indonesia. Menurut informasi yang ia dapat, masih ada lima ton sabu senilai Rp10 triliun yang akan diselundupkan ke Indonesia lewat jalur laut.

Namun, kabar tersebut juga belum jelas, termasuk apakah Kapal Win Long termasuk bagian dari informasi yang didapat Bambang atau bukan. 

Belum selesai sampai di situ. Sebab informasi lain yang Bambang peroleh dari Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso menyebut adanya 600 ton bahan baku sabu berkualitas tinggi senilai Rp1.200 triliun, hampir setengah dari total APBN Indonesia.

Informasi ancaman masuknya bahan baku dengan jumlah tersebut mengindikasikan Indonesia sebagai pasar sabu yang luar biasa besar. 600 ton bahan baku itu menandakan Indonesia bukan cuma pasar yang besar, namun juga tanah untuk para bandar sabu membangun pabrik-pabrik di Tanah Air. Informasi itu bukan kabar burung, sebab Bambang mengatakan, kabar itu disampaikan langsung oleh badan intelijen di Tiongkok kepada BNN.

"Pantauan terakhir ada di sekitar perairan Timor Leste yang kemudian hilang dari pantauan satelit. Jadi, kita tidak boleh berpuas diri. TNI, Polri, BNN dan Bea Cukai harus tetap waspada. Jangan sampai yang lolos justru lebih besar jumlahnya daripada yang 'diumpankan’ untuk ditangkap," kata Bambang, kemarin.

Berbagai penangkapan di wilayah perairan Indonesia turut mendorong Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk meningkatkan koordinasi dengan BNN dan Bea Cukai dalam pengawasan keluar masuk barang di pelabuhan-pelabuhan di Nusantara.

"Kemenhub akan memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada dua instansi itu untuk melakukan pemeriksaan barang, karena memang mereka yang memiliki wewenang," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kepada wartawan di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara.

Kemenhub sadar betul bahwa wilayah perairan adalah pintu masuk paling rawan dalam peredaran narkoba internasional. Selain penyelundupan jumlah besar menggunakan kapal-kapal motor, pelabuhan juga patut diawasi sebab sering kali penyelundupan dalam jumlah lebih kecil dilakukan para pengedar lewat perjalanan transportasi laut.

"Kita tentunya tidak mau pelabuhan yang ada dijadikan keluar-masuk narkoba, sehingga hal itu harus dicegah. Untuk itu kita akan ajak BNN dan Bea Cukai untuk berkoordinasi," tegas Budi.

Proxy war

Di Jakarta, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menyatakan perang kepada para bandar dan pengedar narkoba. Baginya, penyelundupan narkoba oleh kapal-kapal berbendera negara asing bukan semata-mata bisnis, namun juga perang proksi.

"Saya termasuk yang berpendapat bahwa perdagangan narkoba bukan murni bisnis tetapi bagian dari perang proksi," ujar Muhadjir kepada Antara.

Muhadjir mengapresiasi keberhasilan aparat mengintersep sejumlah upaya penyelundupan narkoba dari negara luar. Namun, Muhadjir tetap yakin bahwa peredaran narkoba tak boleh hanya dilihat dari sisi pengedar, peredaran dan penegakan hukumnya.

Menurutnya, perlu upaya membentengi masyarakat Indonesia dengan pendidikan. Narkoba tak boleh lagi jadi bahasan tabu. Pendidikan soal bahayanya penyalahgunaan narkoba kimia harus menyentuh seluruh masyarakat.

Di ranah pendidikan, Kemendikbud akan bekerja sama dengan BNN untuk mengimplementasikan modul antinarkoba yang sudah disusun bersama. Sebab, suka tidak suka, pendidikan dan pemaparan informasi tentang narkoba adalah salah satu cara paling ampuh untuk melindungi generasi bangsa dari penyalahgunaan narkoba.


Infografis (Wildan/era.id)

Tag: darurat narkoba narkoba

Bagikan: