Si Artis Viral yang Terkenal dan Tanggal

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (era.id)

Masih dalam tema Era Budaya Instan, kali ini, tim era.id membahas tentang karya-karya viral yang cepat terkenal dan cepat menghilang. Ternyata, ada rumusnya supaya karya viral itu bisa konsisten. 

Jakarta, era.id - Pasar bisa diciptakan, cipta bisa dipasarkan. Itu judul lagu dari Efek Rumah Kaca. Lagu itu bercerita kira-kira tentang sebuah karya yang dipasarkan akan laku jika dibuat jujur.

Di tema Era Budaya Instan kali ini, kami akan bercerita tentang efek karya yang muncul secara instan. Karena dibuat secara instan, hasilnya ada yang bertahan lama, ada juga yang langsung hilang atau istilahnya, one hit wonder.

"Budaya instan adalah upaya pencarian popularitas yang tidak berakar. Sehingga tidak ada rencana dan tujuannya," kata pakar psikologi sosial dari Universitas Tarumanegara, Yohanes Budiarto saat berbincang dengan era.id beberapa waktu lalu.

Yohanes berkata, sebuah karya instan bisa konsisten karena dihasilkan secara matang. Harus ada reason action dan plan behavior, kata dia. Dengan dua hal itu, semua karya tidak akan mati dengan percuma. 

"Asal ada dua hal itu, dia akan survive. Kalau tidak ada dua hal tadi, itu hanya sekedar euforia dan dia akan mati karena bingung mau apa lagi," kata dia.

Hasil budaya instan itu tampak jelas di YouTube. Platform berbasis video itu kerap memunculkan artis-artis instan. Banyak yang terkenal, dan benar-benar tenar. Ada juga yang terkenal karena viral dan kemudian mental.

Young Lex

Mari kita tilik salah satu penyanyi yang terkenal dari YouTube, sebut saja, Young Lex. Pelantun lagu rap dan hiphop ini mulai dikenal sejak 2011. Namanya makin menonjol setelah berkolaborasi dengan beberapa orang. Di antaranya, Awkarin dan Kemal Palevi. Namanya terkenal bukan karena karyanya saja. Dia sempat membetot perhatian warganet ketika mengeluarkan kalimat-kalimat kontroversi kepada sejumlah pesohor seperti Iwa K, 8 Ball dan Rich Chigga.

Pemilik nama asli Samuel Alexander Pieter ini, sudah setara dengan artis papan atas di televisi. Pria kelahiran 18 April 1992 ini juga punya pundi-pundi keuangan yang mumpuni dari karya-karyanya itu.

Dilansir Social Blade, Lex diprediksi memiliki penghasilan sekitar 1.900–29.000 dolar AS per bulan atau setara dengan Rp24 juta-370 juta per bulan.

Norman Kamaru

Beda nasib dengan Young Lex, ada banyak artis di YouTube yang tenar karena viral tapi langsung pudar. Tim era.id mencatat, di antaranya adalah Norman Kamaru dan Udin Sedunia. 

Saat terkenal, Norman sering bolak-balik shooting di layar kaca, baik siaran langsung atau tapping. Dia pun memutuskan keluar dari profesinya sebagai anggota Brimob Polda Gorontalo. Dia memilih jadi artis daripada jadi polisi.

Baca Juga : Menyelami Budaya Instan dalam Industri Hiburan

Keterkenalan Norman berawal dari video aksi lip sync-nya yang diunggah ke YouTube pada 2011. Dalam video berdurasi 6 menit sekian itu, dia menyanyikan lagu India berjudul Chaiyya Chaiyya. Sambil bernyanyi, Norman juga menggoyangkan badannya.

Keputusan yang terbukti salah. Karirnya tidak berjalan mulus. Dia cuma terkenal beberapa waktu. Akhirnya dia banting setir berdagang bubur Manado di Jakarta guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi, bisnisnya ini tidak berlangsung lama. Dia memilih pulang kampung setelah bisnisnya stagnan.

Udin Majnun alias Udin Sedunia

Hampir mirip dengan Norman, di tahun yang sama juga, 2011, Udin sempat menjadi sangat terkenal kala membawakan lagu berjudul Udin Sedunia. Lirik lagunya berisi kompilasi nama-nama Udin yang banyak diketahui masyarakat. Saat itu, beberapa artikel menyebut Udin sempat ditawari untuk bermain sinetron, masuk label dan bahkan menjual lagunya yang viral di YouTube.

Sayang popularitas Udin hilang dengan cepat. Udin mengaku ada sejumlah kontrak yang dibatalkan akibat aura keartisannya telah meredup. Kini, kabar Udin jarang yang tahu.



Harus ada evaluasi

Kembali ke pakar psikologi sosial. Yohanes Budiarto mengatakan, orang-orang yang tenar dan kemudian hilang dikarenakan mereka hanya mengejar popularitas sebagai target. Mereka hanya mencari like, subscribe and share. Mereka, sambung Yohanes, lupa akan proses. Padahal, dalam proses itu ada evaluasi diri dan evaluasi dari luar.

Orang-orang yang one hit wonder tadi, kata Yohanes, lupa mengevaluasi diri. Mereka hanya terjebak dengan spotlight effect yang seakan-akan membuat perasaan mereka adalah pusat perhatian publik.

"Nah, mereka itu kadang lupa dan terjebak dengan namanya spotlight effect," kata dia.

Atas dasar itu, orang yang terkenal secara instan tadi menjadi stagnan dalam berkarya. Karyanya pun menjadi terkesan asal-asalan dan akhirnya ditinggalkan publik. Ini yang perlu diwaspadai

"Jadi mereka lebih mengestimasi tentang respons publik, dan tidak menilai kinerja mereka. Makanya, mereka tampil begitu sederhana, tidak profesional, apa adanya," adanya.
 

Tag: era budaya instan

Bagikan: