Berkenalan dengan Maskot Asian Games 2018

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Hilmi/era.id)

Jakarta, era.id - Maskot merupakan bagian penting dalam sebuah acara, tidak terkecuali pesta olahraga. Maskot bisa menambah daya tarik sekaligus membantu branding sebuah produk. Setiap maskot yang dibuat biasanya akan diberikan nama panggilan yang sesuai dengan karakter dari maskot itu sendiri.

Asian Games 2018 juga dilengkapi dengan sebuah maskot dan tentunya, logo. Tapi sayangnya, saat kali pertama diumumkan secara resmi di Plasa Selatan Kompleks Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta pada 27 Desember 2015, Drawa--nama maskot ini--mendapat kritikan pedas dari para warganet. Termasuk dari sutradara kawakan Joko Anwar.

Drawa--nama yang  terinspirasi dari burung khas Papua, Cendrawasih--didesain dengan mengenakan baju pencak silat dan berkalung medali, perlambang prestasi. Hanya saja, desain grafis dan karakteristik maskot dan logo ini dianggap kaku dan terlihat tidak modern. Joko bahkan berpendapat, pemilihan Drawa sebagai maskot dan logo bisa bikin malu Indonesia di mata negara-negara peserta lain.

"Kearifan lokal nggak musti caur dan malu-maluin. Ayolah, masa bangsa kita jagonya korupsi doang?" kicaunya melalui akun Twitter @jokoanwar.

Kritik yang mengalir deras membuat pihak penyelenggara, Kemenpora dan Bekraf mengatur ulang bentuk desain maskot dan--tentunya--logo Asian Games 2018 dengan membuka sayembara untuk mendapatkan desain terbaik.

Desainer grafis dari Feat Studio, Jefferson Edri akhirnya terpilih sebagai pemenang sayembara. Tidak seperti sebelumnya, maskot dan logo baru Asian Games 2018 yang diresmikan pada 28 Juli 2016 di kantor staf kepresidenan mendapat sambutan baik dari para warganet. Dalam hal ini, Edri bahkan membuat tiga maskot sekaligus.

Khusus untuk logo, Edri memiliki filosofi khusus yang berawal dari proses penggalian sejarah kompleks Olahraga Stadion Gelora Bung Karno yang memiliki cita-cita membangun bangsa Indonesia lewat olahraga.

"Kami mengacu pada tema sayembara, yaitu The Energy of Asia. Kami terinspirasi semangat Bapak Bangsa Soekarno yang membangun kompleks olahraga Gelora Bung Karno dan beberapa bangunan lain untuk penyelenggaraan Asian Games 1962," ujarnya dilansir dari Rappler.

Bagaimana dengan maskot? Dilansir dari website resmi Asian Games 2018, pihak penyelenggara menentukan maskot yang digunakan sesuai dengan jargon resmi acara dan nilai-nilai keindonesiaan. Jiwa dari Energy of Asia terbentang pada keberagaman budaya, bahasa dan peninggalan sejarah. Saat semua elemen ini bersatu, ini akan menjadi kekuatan utama yang diperhitungkan dunia," bunyi keterangan dalam website.

Selain itu, maskot Asian Games 2018 juga mengandung nilai-nilai dari Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan nasional tersebut diklaim penyelenggara sebagai dasar utama dari penjelasan makna yang terkandung di tiap lakon maskot. "Dengan nilai keberagaman dan kesatuan itulah kami memperkenalkan 3 maskot dengan energi berbeda, merepresentasikan energi yang terdapat pada Asian Games," lanjut keterangan tersebut.

Asian Games Jakarta-Palembang 2018 memiliki tiga maskot yang merepresentasikan tiga jenis hewan dan berbagai kekayaan budaya di Indonesia. Hewan pertama adalah seekor badak bercula satu bernama Kaka, yang merepresentasikan kekuatan sekaligus keunikan hewan khas Ujung Kulon, Jawa Barat sebagai kekayaan fauna Indonesia. Kaka mengenakan pakaian tradisional dengan motif bunga khas Palembang sebagai bentuk penghormatan peran ibu kota Sumatera Selatan.

Hewan kedua yaitu Atung, seekor rusa bawean yang mengenakan sarung dengan motif tumpal dari Jakarta sebagai bentuk representasi kecepatan. Sedangkan yang terakhir adalah burung cendrawasih bernama Bhin Bhin yang mengenakan rompi motif suku Asmat. Hewan ini merepresentasikan strategi sekaligus kekayaan budaya Papua.


Ilustrasi tiga maskot Asian Games 2018 (Hilmy/era.id)

Tag: menjadi bangsa pemenang

Bagikan: