Sandi Bocorkan Bahaya Belanja Online

Tim Editor

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno (era.id)

Jakarta, era.id - Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno menggelar pertemuan dengan Komunitas Konsumen Indonesia. Dalam kesempatan itu, Sandi angkat bicara soal banyaknya penipuan yang dilakukan pelaku usaha online, termasuk e-Commerce. Untuk itu, Sandi mengimbau masyarakat untuk waspada dalam melakukan belanja online.

"Saya mengingatkan kita semua untuk waspada sebelum membeli. Demikian juga yang di online, karena apalagi interaksinya tuh tidak langsung antara penjual dan pembeli," kata Sandi di Balai Kota, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (20/4/2018).

Tapi enggak asal ngelarang, Sandi kasih tips juga nih supaya tetap aman dalam melakukan belanja online. Caranya, kata Sandi, sebisa mungkin jangan lupa meneliti reputasi penjual. Kata Sandi, pastikan hanya membeli barang dari penjual yang reputasinya baik.

"Jadi, make sure yang menjual itu punya reputasi. Make sure itu juga konsumennya itu terlindungi, konsumen itu dilayani, dan konsumen itu dihargai," ujar Sandi. 

Pada hari konsumen nasional ini, Sandi juga menegaskan bahwa setiap individu adalah konsumen, karena itu setiap pelaku usaha memiliki kewajiban untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect), memenuhi (to fulfill) hak-hak setiap individu selaku konsumen. 

"Kalau usaha kita membuat para konsumen merasa nyaman, tenang, dan tidak dirugikan, mereka pasti akan kembali lagi kepada kita. Tentu menjadi kebanggan tersendiri jika seorang pengusaha mempunyai pelanggan yang loyal,” imbuh Sandi.

Sebelumnya, berdasarkan data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dari 642 pengaduan di tahun 2017, YLKI menerima 101 keluhan belanja online atau sebesar 16 persen dari total transaksi online. Jumlah itu diketahui meningkat dua kali lipat dibandingkan 2016 yang jumlah aduannya hanya 8 persen.

Angka ini juga melampaui keluhan konsumen terhadap perbankan yang sebelumnya berada di urutan pertama. Selama 2017, keluhan terhadap perbankan hanya 83 aduan atau sebesar 13 persen.

Lebih lanjut, keluhan-keluhan itu dipetakan dengan rincian:

1. Lambatnya respons komplain (44%)
2. Belum diterimanya barang (36%)
3. Sistem transaksi merugikan (20%)
4. Tidak diberikannya refund (17%)
5. Dugaan penipuan (11%)
6. Barang yang dibeli tidak sesuai (9%)
7. Dugaan kejahatan siber (8%) 
8. Keluhan mengenai cacat produk (6%) 
9. Pelayanan (2%)
10. Harga (1%)
11. Informasi (1%)
12. Keterlambatan barang (1%)

Jika dipetakan keluhan terhadap perusahaan ke perusahaan, Akulaku menempati posisi pertama sebagai perusahaan paling banyak diadukan dengan 14 aduan, disusul Tokopedia (11), Bukalapak (9), Shopee (7), Blibli (5), JD.ID (4), dan Elevenia (3).

Tag: belanja online

Bagikan: