Kembalinya Aktivis yang Hilang

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Usut tuntas kasus penculikan 1998 (Ilustrasi Rahmad/era.id)

Masih terkait peringatan 20 tahun reformasi. Pada masa Orde Baru, sejumlah aktivis mahasiswa hilang misterius karena diduga kuat diculik. Keberadaan aktivis mahasiswa tersebut seperti hilang ditelan bumi. Namun 26 April, 20 tahun silam, tiba-tiba muncul kabar ada mahasiswa yang kembali. Kami akan mengulas peristiwa tersebut.

Jakarta, era.id - Tepat 20 tahun lalu, 26 April 1998, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Munir, memberitahu media, aktivis mahasiswa yang hilang sejak 12 Maret 1998 telah kembali ke rumahnya. Mereka adalah Rahardjo Waluya Djati, dan Faisol Reza.

Ketiga orang tersebut adalah aktivis pro demokrasi. Rahardjo Waluyo Djati misalnya, merupakan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Jaringan Kerja Rakyat (Jaker). Dia diculik pada 12 Maret 1998 di RSCM saat mau menghadiri acara di YLBHI bersama Faisol Reza.

Awalnya mereka merasa diikuti sekelompok orang. Mereka mulai berlari ke RSCM ketika sadar ternyata orang yang mengikutinya di belakang semakin dekat. Mereka naik ke lantai 2 di bagian UGD dan kemudian terpojok di toilet. Dalam penangkapan itu, Djati sempat dipukuli oleh orang-orang yang menculiknya karena mencoba mengundang perhatian orang di sekitarnya.

Penculikan dilakukan sekitar 8-10 orang. Mereka mempunyai ciri-ciri di antaranya berambut panjang, berbadan tegap, dan berpenampilan layaknya seorang preman. Djati dibawa menuju parkiran RSCM kemudian dimasukkan ke dalam sebuah jeep dan diinjak kepalanya dengan kain hitam yang membungkus kepalanya.

Setelah dibawa berputar-putar selama 2,5 jam, kemudian dia diturunkan di sebuah tempat, ruangan bawah tanah. Dalam ruangan itu Djati ditempatkan di sebuah kamar sel.

Sedangkan Reza ketika keluar dari toilet RSCM langsung dipukul di sekujur tubuhnya terutama pada bagian ulu hati sehingga sulit bernafas dan tidak dapat berteriak. Penculik lalu menyeret Reza ke parkiran dan dimasukan ke dalam mobil yang sudah disiapkan di halaman parkir. Saat berada dalam mobil, tangan Reza diborgol ke belakang dan kepalanya ditutup dengan kain hitam. Reza juga ditodong sepucuk pistol di pinggangnya dan diminta tetap tenang serta tidak melawan.


Sejumlah aktivis yang jadi korban penculikan. Kasusnya masih menyisakan misteri hingga sekarang (Foto Reuters)

Setelah sampai, penyiksaan demi penyiksaan dilakukan oleh oknum tersebut. Selain dipukul, Reza juga disetrum menggunakan alat kejut listrik yang diarahkan hampir ke seluruh tubuhnya kecuali dada. Tak hanya itu, Reza juga disundut rokok serta tangan dan kaki sempat dibakar dengan korek api. Akibat intensitas penyiksaan tinggi yang dilakukan selama 3-4 hari, Reza tidak bisa tidur.

Saat diculik, pertanyaan yang muncul kebanyakan seputar aktivitas mereka di SMID (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi) dan PRD (Partai Rakyat Demokratik). selain itu mereka juga ditanya hubungannya dengan jaringan pro demokrasi serta tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais, Megawati Soekarnoputri, dan Sofyan Wanandi.

Setelah masa penyekapan 2-3 hari berturut-turut mereka dipindahkan ke kamar sel lain. Pada saat itu Djati baru mengetahui bahwa di kamar sel lainnya ada Faisol Reza, Pius Lustrilanang, Desmond J Mahesa, dan Haryanto Taslam.

Dalam tahanan tersebut mereka dapat berkomunikasi satu sama lain. Dari sana Djati tahu kalau Herman Hendrawan, Yani Afri, dan Sonny juga sempat disekap di tempat yang sama.
 
Mereka akhirnya dilepaskan oleh penculik. Djati dilepaskan di fly over Cipinang dengan dibekali tiket kereta bisnis jurusan Semarang dan sejumlah uang saku. Sementara Reza langsung kembali ke Purbolinggo ke tempat rumah orang tuanya. Sedangkan Herman Hendrawan tidak jelas kabarnya.

Infografis penculikan aktivis mahasiswa (Rahmad/era.id)

Tag: peringatan 20 tahun reformasi

Bagikan: