Ari Soemarno dan Sepak Terjang ISC

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi Ari Soemarno (Abid/era.id)

Jakarta, era.id - Publik sedang ramai membahas rekaman percakapan Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut PLN Sofyan Basir. Wakil Ketua Komisi VI DPR Inas Nasrullah Zubir yakin, rekaman yang beredar luas di masyarakat ini, membahas proyek storage LNG di Bojonegara, Cilegon pada 2014.

Lewat percakapan itu, Inas yakin keluarga Soemarno memiliki peran besar dalam bisnis pertambangan di Indonesia. Bicara soal Rini, yang kebetulan baru memecat Elia Massa dari posisi Direktur Utama Pertamina, kurang afdol jika tidak membahas sosok kakakknya, Ari Soemarno.

Dalam rekaman percakapan yang tersebar itu, memang sempat muncul kata 'Pak Ari'. Meski tidak jelas juga apakah yang dimaksud Ari Soemarno atau yang lain. Tapi berdasarkan transkip yang dianalisis tim era.id, terdapat lebih dari lima kali penyebutan frasa 'Pak Ari' dalam percakapan mereka.

Kembali ke Ari Soemarno. Kakak kandung Rini ini adalah sosok kuat di sektor migas Indonesia. Nama Ari kembali mencuat setelah Rini mengumumkan kakaknya itu menjadi Ketua Kelompok Kerja Energi dan Anti Mafia Minyak dan Gas Tim Transisi Jokowi-JK, 23 September 2014 lalu. Dengan bangga Rini Soemarno memamerkan sang kakak kepada publik sebagai sosok yang kompeten untuk menyelesaikan persoalan mafia migas saat ini.



Ari memang pernah duduk sebagai Presdir Pertamina Energy Trading (Petral), anak perusahaan Pertamina yang bergerak dalam bidang ekspor dan impor minyak. Tapi seperti yang kita ketahui, Jokowi akhirnya membubarkan Petral.

Dalam berbagai dokumentasi Petral, diketahui ada pihak ketiga yang ikut campur dalam proses pengadaan dan jual beli minyak mentah dan produksi BBM di Pertamina Energy Service (PES) Pte Ltd. Mulai dari mengatur tender hingga memunculkan harga hasil perhitungan sendiri. Pihak ketiga itu bisa mempengaruhi personal-personal di PES untuk memuluskan mengatur tender dan harga. Akibatnya Petral dan Pertamina tidak memperoleh harga terbaik ketika melakukan pengadaan minyak maupun jual beli produk BBM.

Ari Soemarno juga mendirikan Integrated Supply Chain (ISC) di tahun 2008, saat dia menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina. ISC punya tiga peran utama, sebagai perencana & optimasi terintegrasi, pengadaan/penjualan, serta operasional suplai dan ekspor untuk memastikan keamanan suplai dan stok minyak mentah, bahan bakar minyak dan LPG nasional.

Saat didirikan, muncul berbagai kecaman pembentukan ISC dari para petinggi Pertamina. Komisaris Independen Pertamina Umar Said dalam suratnya tertanggal 2 September 2008 menyatakan tidak sependapat dengan pembentukan ISC. Hal yang sama juga utarakan Komisaris Pertamina lainnya saat itu, Muhammad Abduh. Abduh menyatakan keberadaan ISC yang langsung berada di bawah Dirut membuat posisi ini berfungsi dalam operasional. Padahal Dirut tidak boleh terlibat dalam operasional.


Infografis sepak terjang Ari Soemarno (Wildan/era.id)

Kuasa ISC dalam menjaga sistem perdagangan minyak semakin kuat setelah Ketua Tim Transisi Jokowi JK mewacanakan pembubaran Petral. Pembubaran Petral dikarenakan anak perusahaan Pertamina tersebut sebagai sarang mafia minyak dan gas yang selama ini membebebani pembiayaan migas negara. Kebijakan tersebut tidak terlepas dari peran Ari Soemarno dan Menteri ESDM saat itu, Sudirman Said.

Baca: Rekaman Rini-Sofyan Bisa Jadi Skandal Besar

ISC sendiri punya banyak catatan hitam sejak berdiri. Pada 2016, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menilai fungsi ISC melakukan kesalahan terkait pelaksanaan tender minyak mentah "West Afrika Crude" sejumlah 18 juta barel. Yusri menilai perusahaan minyak tersebut telah melakukan kebohongan publik atau melanggar prinsip tata kelola perusahaan. Klaim tersebut tercipta setelah saat tender, peserta yang ikut hanya sekitar 8 perusahaan trader, dan anehnya peserta tersebut bukanlah berasal dari 150 perusahaan yang telah menjadi rekanan ISC, dilansir dari energyworld.co.id.

Tag: pertamina rini soemarno bumn

Bagikan: