Ibu, Jangan Paksa Aku Bersekolah di Usia Dini

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Rahmad/era.id)

Jakarta, era.id - Banyak anak yang terlalu cepat mengenyam pendidikan di usia dini. Salah satunya lewat jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) yang ditujukan untuk anak usia nol sampai enam tahun.

Jika dahulu anak-anak terbiasa menikmati kehidupan bermain secara bebas sebelum masuk pendidikan formal, kini banyak orang tua yang malah berlomba mendaftarkan anaknya untuk mengenyam bangku pra-sekolah.

Padahal, permasalahan terkait kondisi lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia menjadi perhatian sejumlah pihak. Pada 2017, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sekitar 87 persen guru PAUD di Jabodetabek rentan melakukan kekerasan yang bersifat verbal dan psikis. 

"Kita riset di 100 PAUD di Jabodetabek. Delapan puluh tujuh persen guru rentan melakukan kekerasan pada anak," kata Wakil Ketua KPAI, Susanto, seperti dikutip laman kpai.go.id.

Baca Juga : Soal Matematika Sulit, KPAI: Pelanggaran Hak Anak!


(Ilustrasi: Pixabay)

Selain itu, permasalahan yang dihadapi anak yang terlalu cepat mengenyam pendidikan pada usia dini adalah kondisi mental, tekanan pembelajaran, hingga lingkungan bermain yang tidak tepat.

Ahli perkembangan anak asal Inggris, Elizabet Hartley Brewer, adalah salah satu psikolog yang mendukung agar anak tidak buru-buru masuk ke sekolah dasar. Menurutnya, saat ini, muncul ragam kondisi di mana anak-anak di Inggris mengalami berbagai kondisi yang tidak baik bagi dirinya. Seperti kecemasan, depresi, takut gagal, hingga makan berlebihan.

Dilansir dari telegraph.co.uk, asosiasi guru profesional di Inggris menyatakan, anak-anak harus menunda waktu untuk masuk ke pendidikan formal. Dengan menunda waktu masuk, maka diharapkan mereka mampu mendapatkan waktu bermain yang cukup.

Baca Juga : Hampir 100 Persen Anak Terpapar Pornografi

Menentukan umur yang cocok bagi anak untuk masuk ke pendidikan formal telah banyak dikaji oleh berbagai negara di dunia. Penelitian di Amerika misalnya, seorang anak berumur lima tahun tidak memperlihatkan keuntungan signifikan dalam bidang akademis apabila dilihat dari jangka panjang. Bahkan, mereka diprediksi mampu terkena persoalan emosional seperti yang dialami orang dewasa.


Infografis (Rahmad/era.id)

Otak anak-anak pada usia dini sangat mudah diprogram untuk belajar banyak hal menarik. Seperti contoh, anak-anak mampu tumbuh dan berkembang dengan baik dengan berbagai eksplorasi diri; melihat lingkungan sekitar; menikmati permainan dan hubungan yang hangat antara dirinya dengan orang tuanya.

Baca Juga : Indonesia Serius Tekan Kekerasan Seksual Anak

Sedangkan bagi anak-anak yang masuk pada pendidikan formal, mereka dikhawatirkan tidak siap untuk mengalami rutinitas, kebisingan, hingga standarisasi yang memaksa mereka bernilai sama. 

Di berbagai negara di Asia, termasuk di Indonesia, pendidikan usia dini telah menjadi tren. Orang tua memaksa anak-anaknya berpendidikan secara cepat dan menjadi yang terbaik di antara anak-anak seusianya, padahal cara itu justru keliru.

Tag: era pendidikan riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: