Menghayati Perjuangan Kelas Pekerja Lewat May Day

Tim Editor

    Hari Buruh (Foto: Jafriyal/era.id)

    Jakarta, era.id - "Ide utama brilian dari May Day adalah gerakan maju massa proletar dengan segera," ucap Rosa Luxemburg. Secara pemaknaan, jelas May Day adalah perjuangan masyarakat kelas bawah untuk naik kelas.

    Rosa adalah seorang revolusioner Marxis. Bersama Karl Liebknecht, Rosa turut memimpin pemberontakan Spartakus di Berlin. Dalam pemberontakan itu, kutipan di atas lahir. Sebelum pemberontakan Spartakus, aksi buruh dipecah, parlementarisme jadi musuh besarnya.

    Sejak itu, haluan perjuangan buruh berubah ke arah paling politis. Dengan konsep juru selamat yang diiming-imingi pemerintah, para buruh mulai duduk tenang, menyerahkan nasib mereka ke sejumlah orang yang disebut wakil rakyat.

    "Kebanyakan hanya bisa mengekspresikan kehendaknya melalui kotak suara, melalui pemilihan perwakilan mereka," kata Rosa, dikutip dari Antara, Selasa (1/5/2018).

    Penetapan 1 Mei sebagai hari perjuangan kelas pekerja sendiri ditahbiskan pada Kongres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions. Tanggal 1 Mei dipilih karena tanggal tersebut merupakan hari pertama sistem delapan jam kerja diberlakukan di Amerika Serikat pada tahun 1886.

    Tujuannya, untuk menyuntikkan semangat baru bagi perjuangan kelas pekerja yang sampai pada titik didih pada era tersebut. Selain perjuangan, pemaknaan lain dari May Day adalah duka cita.

    Di momen perjuangan yang sama pada tahun tersebut, 4 Mei 1886, ratusan buruh yang turun ke jalanan Chicago ditembaki secara brutal oleh polisi. Dalam peristiwa yang dikenal dengan tragedi Haymarket itu, sejumlah pimpinan gerakan buruh juga ditangkap dan dihukum mati.
     

    Baca Juga : 30.000 Buruh di Jakarta


    Pergolakan sejatinya telah terjadi sejak awal abad 19. Di lumbung-lumbung pergerakan, kegerahan terhadap kapitalisme telah dirasakan para pekerja. Perkembangan kapitalisme industri di era itu juga menandai perubahan drastis kondisi ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat.

    Upah minim, buruknya kondisi kesejahteraan masyarakat, pengetatan disiplin, hingga pengintensifan jam kerja memercik api perlawanan dari kalangan kelas pekerja yang merasa hak berkehidupannya telah direnggut pabrik-pabrik dan perusahaan-perusahaan penyedot darah.

    Di Indonesia

    Perjuangan kelas pekerja sendiri telah dilakoni sejak lama oleh bangsa Indonesia. Di tahun 1920, bangsa tercinta mulai memperingati May Day. Saat itu juga, Indonesia jadi negara Asia pertama yang menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari buruh. Bahkan, peringatan itu turut diatur dalam Pasal 15 Ayat 2 Undang-undang (UU) Kerja Nomor 12 Tahun 1948.

    Masuk era pemerintahan Orde Baru, peringatan Hari Buruh ditiadakan. Pemerintah saat itu berpandangan, Hari Buruh terlalu identik dengan paham komunis. Sejak itu, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, 1 Mei bukan lagi peringatan terhadap perjuangan kaum buruh, dan kaum buruh bukan lagi cuma kaum kelas bawah, tapi juga kaum yang ditabukan. 


    Baca Juga : Hasrat Aksi Buruh Tak Terbendung


    Pandangan pemerintahan Orde Baru itu sejatinya telah terbantahkan dengan sikap dunia internasional dalam menanggapi Hari Buruh. Sebab, nyatanya mayoritas negara dunia turut merayakan Hari Buruh. Baik negara berpaham komunis atau yang menganut paham di luar itu sekalipun.

    Selepas lengsernya Soeharto yang jadi penanda runtuhnya Orde Baru, perayaan May Day kembali ke Tanah Ibu Pertiwi. Selepas itu, setiap tanggal 1 Mei, demonstrasi mulai kembali digelar di sejumlah kota di Indonesia.

    Selain sisipan paham komunis, May Day juga kerap memunculkan kekhawatiran akan masalah keamanan dan ketertiban. Namun, anggapan itu pun langsung terbantah begitu saja.

    Di balik rangkaian demonstrasi buruh dari tahun ke tahun, ada rekor yang patut dibanggakan oleh para pekerja. Sejak May Day 1999 hingga kini, peringatan May Day tak pernah membuahkan kerusuhan yang masuk dalam kategori "Membahayakan ketertiban umum."

    Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan panjang kelompok kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Jika melihat perjalanan sejarahnya, May Day seharusnya diperingati dengan semangat revolusioner.

    Sebab perjalanan ke Istana Negara bukan sebuah perjalanan piknik, apalagi ajang pamer motor sport dan kendaraan mewah. May Day tak pernah lahir dari romantisme murahan semacam itu.

    Tag: kelas pekerja may day

    Bagikan :