Bimbel yang Menjual Mimpi Masuk PTN

Tim Editor

Sedang memuat podcast...

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta, era.id - Ketatnya seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN)--apalagi yang berlabel favorit--mendorong perorangan maupun korporat mendirikan lembaga pendidikan tambahan atau yang beken disebut bimbel (bimbingan belajar). Alasannya, tentu saja untuk membantu para siswa melewati kesulitan dalam ujian tadi. Tapi, berhasilkah?

Harapan siswa kelas 12 SMA yang ingin masuk PTN favorit memang dipandang oleh sebagian orang sebagai peluang besar untuk ambil bagian dalam salah satu program pemerintah, yakni; mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, banyak dari mereka yang tidak segan-segan menjual mimpi demi meraup banyak siswa. 

Kualitas pengajar tentunya menjadi hal yang amat penting. Pun dengan kemauan dan kerja keras siswa dalam menjalani proses belajar di bimbel tersebut. Percuma jika seseorang belajar di sebuah bimbel ternama dan mahal tapi dia malas-malasan.

Atau sebaliknya, siswanya semangat, tapi pengajarnya biasa-biasa saja dan bahkan tidak mampu memotivasi siswanya.

Sebagai ilustrasi, Nurhizati (17) rela datang jauh-jauh dari Padang untuk mengikuti program belajar di salah satu tempat bimbel favorit di Jakarta. Sambil mendekap buku latihan soal, kepada era.id, Nurhizati mengungkapkan, alasannya ke Ibu Kota karena ingin mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian masuk ke PTN.

"Persiapan yang dilakukan di sekolah masih kurang. Saya dari Padang, sekolah di Padang. Khusus untuk bimbel aja dateng ke sini," kata perempuan yang sangat ingin masuk ke Universitas Indonesia ini, Selasa (1/5/2018). Bayangkan jika dia tidak mendapatkan sistem pengajaran dan staf pengajar yang diharapkan?

Ada banyak tempat bimbel yang memenuhi standar pengajaran dan menghasilkan siswa-siswi berprestasi. Tapi, mereka pun kadang terlalu bombastis mempromosikan diri. Nurul Fikri misalnya, di situs resminya terpampang slide banner yang memaparkan informasi soal potongan harga jika mendaftar lebih cepat pada salah satu program unggulan mereka. Yakni, Super Intensif SBMPTN. 

Baca Juga : Melihat Bimbel sebagai Kapitalisme Baik

Pada caption penutup materi promo tersebut juga dituliskan; "Masuk NF sebelum masuk ITB, UI, ITS, UGM, & PTN favorit lain". Sungguh menggugah harapan siswa yang memang sedang mengejar target masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. 

Sama halnya dengan Salemba Group (SG), banner besar dalam website-nya terpampang dengan tulisan "Program Jaminan 2018", di mana dalam program tersebut ditawarkan bimbingan super intensif dan eksklusif yang didesain khusus untuk mempersiapkan kesuksesan SBMPTN, SIMAK UI, dan UMPTN.

Hal yang lebih membuat orang tidak perlu pikir panjang untuk mengambil program ini adalah soal garansi uang yang dikembalikan 100 persen jika siswa bersangkutan tidak diterima di UI atau PTN.

Tidak berbeda dengan tulisan "Revolusi Belajar" yang menyita perhatian para pengunjung website resmi Ganesha Operation (GO). Apalagi, kata-kata lanjutannya berbunyi; "Meraih Sukses UN, SNMPTN, & SBMPTN". Tagline-tagline yang dipasang pada landing page website tempat bimbel ini seolah membangkitkan harapan para siswa yang mendambakan kuliah di kampus-kampus favorit di Indonesia. 

Apakah semua iming-iming itu jadi jaminan lolosnya mereka ke PTN? Sekali lagi, kami tidak sedang mengajak kamu jadi penganut anti-bimbel, bimbel club. Sebab, bagaimana pun, kehadiran bimbel merupakan alternatif cara memperkaya ilmu. Tapi, semua tergantung dari siswanya.

Baca Juga : Ini Nih Strategi Lolos Kuliah di Kampus Negeri

Felix (17) siswa SMA Kristen 3 Penabur Jakarta misalnya. Dia mengatakan, pelajaran sekolah hanya untuk persiapan ujian nasional. Sedangkan untuk masuk PTN, tidak ada. Itulah mengapa dia memilih mengikuti salah satu program di salah satu tempat bimbel ini. Artinya, dia menaruh kepercayaan penuh terhadap bimbel tempatnya menuntut ilmu tambahan.

Namun pandangan berbeda datang dari siswi SMA Negeri 60 Jakarta, Faika. Menurutnya, bimbel tidak menjamin seseorang lolos seleksi masuk PTN, karena usaha setiap individu seseorang lah yang menentukan.

"Kalau kita belajar di bimbel tapi kita males, sama aja bohong. Sebaliknya, kalau kita enggak masuk bimbel tapi kita rajin, siapa yang tau kan?" tandasnya. Untuk kasus yang satu ini, siswa memiliki kepercayaan diri dan kemauan yang tinggi. 

Nah, sekarang, kita kembalikan kepada masing-masing individu. 

Ilustrasi grafis bimbel (Rahmad/era.id)

Tag: era pendidikan riwayat pendidikan tri mumpuni

Bagikan: