Kriteria Model Plus Size untuk Berlenggok di Atas Runway

ERA.id - Saat ini dunia modeling bukan hanya milik orang-orang bertubuh ideal. Model plus size hadir menjadi jawaban bagi orang-orang bertubuh besar yang ingin berlenggok di atas runway. Kriteria model plus size juga tidak berbeda jauh dengan model umumnya, kecuali soal ukuran dan berat tubuh tentunya.

Ilustrasi model plus size (unsplash)

Secara umum, orang bertubuh besar tidak diterima dalam seleksi model. Berdasarkan penelitian Simply Be, perusahaan pakaian, 77 persen orang bahkan percaya bahwa model ukuran 0 (plus size) harus dilarang tampil di catwalk.

Hal tersebut terjadi karena catwalk oleh model ukuran 0 terkesan sedang mempromosikan citra tubuh tidak sehat. Ini tentu sesuatu yang ekstrem sebab ada wanita yang memiliki tubuh berukuran 0 akibat faktor alami.

Kriteria Model Plus Size Menurut Mas Panca

Panca Makmun, salah satu juri Indonesia’s Next Top Model, memberikan penjelasan soal syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi model plus size. Secara umum, hal tersebut tidak berbeda dengan syarat untuk menjadi model dengan ukuran tubuh ideal.

Persyaratannya sebenarnya sama sama (dengan) yang lainnya, harus punya look juga karena biar bagaimanapun seorang model kan membawakan baju. Balik lagi tadi aku bilang, enggak cantik juga enggak apa-apa, tetapi punya sesuatu,” ungkap Mas Panca, panggilan akrab Panca Makmun, dikutip Era dari kanal YouTube ganegani.

Bagi dia, cantik adalah nilai tambah bagi seorang model. Meskipun seseorang memiliki tubuh yang besar, jika tampak bagus saat menggunakan baju tertentu dan memiliki tampilan seorang model.

Cantik itu plus namanya. Dia bisa dipakein baju, terus dia look-nya memang model, walaupun dia ‘plus’ enggak papa.”

Dia mengatakan, hal yang paling penting dari seorang model adalah karakter. Ini perlu dimiliki oleh model, baik dalam dunia foto maupun catwalk.

Yang kita cari selain unik, dia punya karakter di atas panggung. Kalau di runway ya. Kalau di foto juga pasti kan gitu ya, angle, karakter juga perlu,” terangnya.

Namun, lanjut Mas Panca, karakter menjadi sesuatu yang sangat penting dalam catwalk sebab sang model terlihat secara langsung. Ini berlaku bagi model ukuran tubuh ideal dan ukuran tubuh 0 atau plus.

Di runway itu kan lebih live, jadi bener-bener mau dilihatin ni karakternya seperti apa. Jadi, ‘plus’ juga gitu dilihat karakternya. Sama, cuma bedanya ukuran aja,” tambahnya. 

Penyamaan kriteria model, baik tubuh plus size maupun ideal, menjadi wujud keadilan. Dunia model menerima perempuan dengan tubuh yang beragam selama memenuhi standar model tersebut. Mas Panca menyebutnya sebagai tampilan model, baik cantik maupun tidak. Soal ukuran tubuh, baginya itu bukanlah masalah.

Model Produk

Produk iklan umumnya menggunakan model berkulit putih, berwajah cantik, dan bertubuh langsing atau ideal. Namun, hal tersebut tak lagi berlaku. Konsumen ingin ada keragaman bentuk, etnis, warna, dan sebagainya.

Model plus size (unsplash)

Hasilnya, beberapa perusahaan memberikan tanggapan. Contoh hasil dari sikap terhap isu tersebut adalah Emme. Dia merupakan model plus size pertama yang menghiasi sampul majalah People’s sebagai model dengan predikat Most Beautiful People pada tahun 1994.

Di media sosial, perilaku body shaming terhadap plus size mendapatkan banyak kritikan. Hal ini juga meningkatkan kepercayaan diri para pemilik tubuh plus size. Ashley Graham, model plus size, mendapatkan tempat di sampul Sports Illustrated Swimsuit Edition.

Capaian-capaian tersebut membuat orang bertubuh besar menjadi lebih percaya diri untuk tampil di muka umum. Orang-orang tersebut juga bisa berlenggok di runway selama memenuhi kriteria model plus size.