Hati-Hati, Berikut 7 Ciri Orang yang Melakukan Pelecehan Emosional kepada Anda

ERA.id - Pelecehan emosional ataupun mental tentu tidak mudah untuk diketahui. Selain itu, pelecehan dalam bentuk ini masih dianggap lumrah oleh sebagian orang. Namun, tahukah Anda, pelecehan emosional sama-sama berbahayanya dengan kekerasan fisik?

Ilustrasi dampak buruk sering marah, membentak, dan teriak pada anak (Freepik/Master1305)

Hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan, yakni potensi terjadinya kondisi kesehatan mental yang buruk seperti rendah diri dan depresi.

Untuk mengenali seperti apa pelecehan emosional atau mental, Anda harus memahami ciri-cirinya. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa tanda pelecehan emosional, seperti yang dilansir di laman Insider, Jumat 23 September 2022:

1. Gaslighting

Terapis pernikahan dan keluarga, Payal Patel, menyebutkan, gaslighting merupakan taktik umum yang kerap dilakukan dalam hubungan yang kasar secara emosional.

Seseorang yang melakukan gaslighting biasanya menyangkal peristiwa yang sudah terjadi agar korban merasa ragu atas diri mereka sendiri dan mengombang-ambingkan persepsi mereka sendiri terhadap realitas. Hal ini tentunya dapat merusak pertahanan mental korban, sebab kata-kata orang yang melakukan gaslighting menjadi lebih kuat daripada keyakinan maupun pengalaman korban itu sendiri.

2. Mengisolasi korban dari orang-orang terkasih

JaQuinda Jackson, terapis berlisensi, menyebutkan pelaku pelecehan emosional sering kali mengisolasi korban agar dapat mengontrol korban dengan lebih mudah.

Hal ini dilakukan dengan cara membatasi kontak korban dengan orang-orang terkasihnya seperti keluarga ataupun teman. Pelaku juga meyakinkan korban bahwa hanya dia satu-satunya orang yang peduli pada hidup korban.

Karena isolasi itulah, korban tidak mendapatkan dukungan dari orang sekitarnya yang bisa jadi memahami dan dapat membantu korban mengenali pelecehan mental.

3. Berteriak

Berteriak juga bisa dijadikan ciri sebagai salah satu tanda pelecehan emosional dalam semua jenis hubungan.

Jika Anda pernah dimarahi dengan teriakan yang sangat keras, agresif, apalagi jika orang tersebut berteriak di dekat wajah Anda, maka hal itu sudah menandakan indikator hubungan yang kasar.

Cara tersebut bisa dijadikan sebagai taktik kasar, sebab dapat membangun dinamika kekuasaan yang tidak berimbang dalam sebuah hubungan. Sebab, orang yang bersuara lebih keras secara tidak langsung mempunyai kekuatan lebih dan menimbulkan rasa takut pada korban. Dengan rasa takut itulah pelaku mengendalikan korbannya.

4. Mengucapkan bahasa yang menghina

Pelaku pelecehan emosional bisa jadi memanfaatkan bahasa yang bersifat ejekan atau hinaan secara halus untuk menyerang harga diri korban. Penghinaan semacam ini seringkali menargetkan daya tarik, kompetensi, dan nilai korban sebagai seorang pribadi.

Salah satu contohnya, pelaku mengucapkan kalimat, “Coba kamu pikirkan, kamu cari di seluruh dunia ini, tidak akan ada yang mencintai kamu seperti aku.”

5. Kemarahan yang meledak tak terduga

Kemarahan yang meledak tiba-tiba tentunya terasa menakutkan dan dapat dianggap sebagai bentuk intimidasi.

Pasangan, anggota keluarga, atau atasan mungkin terlihat tenang pada suatu saat. Namun, bagi yang cenderung memiliki sifat seorang pelaku pelecehan emosional, bisa jadi memperlihatkan kemarahannya dengan membanting barang, memukul dinding, atau menatap korbannya dengan intimidatif.

Semua tindakan di atas bisa dikategorikan sebagai potensi ancaman atau bahaya pelecehan emosional, meskipun pelaku tidak menyakiti secara fisik.

6. Mengalihkan kesalahan

Seringkali seorang pelaku akan mengalihkan kesalahannya dan malah menyalahkan orang lain karena perilaku kasar mereka. Dengan demikian, korban akan terjebak oleh sikap pelaku yang manipulatif dan bisa saja merasa bersalah.

Contohnya, seorang pasangan ataupun orangtua yang kasar, meyakinkan korban bahwa pelecehan yang diterima korban merupakan akibat dari kesalahan korban sendiri, dan meminta korban untuk mengubah sikapnya agar tidak mendapatkan pelecehan emosional kembali.

Namun, tentu saja pelecehan emosional kerap kali tidak dapat diprediksi. Hal inilah yang jarang dipahami oleh kebanyakan orang.

7. Memiliki rasa cemburu yang berlebihan

Kecemburuan merupakan hal lumrah dalam sebuah hubungan, tetapi jika kadarnya sudah berlebihan, tentu saja hal itu menjadi bibit penyakit.

Pada beberapa titik dalam suatu hubungan, kebanyakan orang merasakan cemburu. Namun, saat rasa cemburu itu menimbulkan kemarahan yang intens dan perilaku yang terlalu mengekang, hal itu bisa dikategorikan sebagai pelecehan emosional.

Demikianlah penjelasan mengenai pelecehan emosional atau mental, beserta ciri-ciri yang menandakannya.

Baca artikel-artikel dan informasi menarik lainnya, pantau terus kabar terbaru dari ERA, Media Terpercaya dan Pilihan Anda.