Ini Proses Terjadinya Hujan Es dan Dampaknya Bagi Lingkungan

ERA.id - Indonesia berada di garis khatulistiwa dan memiliki iklim tropis sehingga hujan salju tidak terjadi. Namun, hujan es malah pernah ada di beberapa daerah. Sebenarnya, apa penyebab hujan es?

Tercatat, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah daerah di Indonesia mengalami fenomena hujan es. Daerah-daerah tersebut adalah Sleman (25/01/2016), Bandung (26/03/2016), Bekasi (25/09/2016), Jakarta Selatan (28/03/2017), Lampung (20/02/2022), Surabaya (21/02/2022), Tangerang Selatan (14/03/2022). Terbaru, terjadi hujan es di Sulawesi Selatan (01/10/2022).

Dampak Hujan Es

Ini tentu menjadi sesuatu yang menghebohkan. Tak hanya jarang terjadi, tetapi hujan es juga berbahaya. Ukuran es yang jatuh beragam, semakin besar semakin berbahaya.

Menurut NOAA National Severe Storms Laboratory, salah satu lab penelitian cuaca di Amerika Serikat (AS), es yang jatuh ke tanah ketika hujan es memiliki kecepatan yang berbeda-beda.

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi kecepatan kejatuhan es, antara lain ukuran es, gesekan antara es dan udara di atmosfer, dan kondisi angin. Sebagai contoh, biasanya es berdiameter 2 cm dengan frekuensi hujan kecil memiliki kecepatan kejatuhan 14 hingga 40 km/jam. Sementara, es berdiameter 4 cm dengan frekuensi hujan disertai angin kencang bisa memiliki kecepatan jatuh 40 hingga 65 km/jam.

Hujan es bisa menyebabkan luka pada manusia dan merusak barang-barang yang tak terlindung. Selain itu, penerbangan juga akan terganggu oleh fenomena ini. Genting rumah pun berisiko rusak akibat hantaman es-es dari langit ini.

Penyebab Hujan Es

Peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Amien Widodo, menjelaskan bahwa hujan es atau hail terjadi karena terdapat awan cumulonimbus yang sangat besar dan gelap dengan bentuk menyerupai jamur.

Ilustrasi awan cumulonimbus (unsplash)

Awan cumulonimbus kerap muncul dari awal hingga di akhir musim penghujan. Ketika ada aluran udara ke bawah yang cukup tinggi, awan ini bisa menyebabkan hujan es.

“Dengan didukung suhu permukaan yang rendah, hujan yang akan turun bisa berbentuk butiran es,” terang Amien, dikutip Era dari www.its.ac.id.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS ini menjelaskan, awan cumulonimbus tak hanya berpotensi datangkan hujan es. Awal tersebut juga bisa membawa angin putting beliung yang kencang. Menurut Amien, ini memperburuk dampak dari hujan es.

“Hujan es ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia, kondisinya semakin parah karena semakin banyak titik yang mengalami hal ini,” terangnya.

Sementara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa perubahan iklim telah nyata terjadi di seluruh dunia. Akibat hal tersebut, kondisi permukaan bumi bisa lebih ekstrem jika dibiarkan, misalnya terjadi angin puting beliung dan hujan es yang sebelumnya merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi di Indonesia.

Terkait hal tersebut, Amin menerangkan, hujan es punya potensi menjadi bencana alam, padahal sebelumnya hanya fenomena alam biasa. Dia mengatakan, hujan es dengan ukuran besar dan padat bisa mendatangkan kerusakan bagi masyarakat, misalnya pecahnya genting rumah.

“Namun, angin puting beliung yang datang bersamaan dengan hujan es yang lebih harus diwaspadai karena bersifat lebih merusak,” tambahnya.

Hujan es merupakan fenomena yang tidak bisa diprediksi secara pasti, baik lokasi maupun waktu terjadinya. Oleh sebab itu, masyarakat harus waspada, apalagi ketika musim penghujan. Perlu diketahui, awan cumulonimbus tidak selalu mendatangkan puting beliung dan hujan es.

“Konstruksi harus lebih disiapkan untuk menghadapi hujan es yang disertai dengan angin puting beliung,” lanjutnya.

Itulah dampak dan penyebab hujan es. Karena fenomena ini belum bisa diprediksi secara pasti, masyarakat sebaiknya lebih waspada ketika masuk musim penghujan.