Dari Manajer hingga Petugas Tiket, Sembilan Orang Ditangkap Atas Tragedi Jembatan Runtuh di India

ERA.id - Pihak kepolisian India menangkap sembilan orang terkait runtuhnya jembatan gantung di Gujarat, India. Sembilan orang itu termasuk manajer hingga petugas tiket di lokasi kejadian.

Penangkapan sembilan orang tersangka ini berkaitan erat dengan Oreva, produsen peralatan listrik yang berbasis di Gujarat yang melakukan pemeliharaan di jembatan sepanjang 230 meter di kota Morbi.

“Sembilan termasuk dua manajer, dua petugas tiket, dua kontraktor dan tiga penjaga keamanan,” kata perwira polisi senior Ashok Kumar Yadav, dikutip CNN, Selasa (1/11/2022).

Lalu, kata Yadav, para tersangka yang sudah diamankan sedang diselidiki untuk kasus pembunuhan tidak bersalah. Ia menambahkan tim investigasi khusus sedang ditugaskan dalam melakukan penyelidikan.

Dilansir dari AFP, jumlah korban tewas akibat jembatan ambruk di India bertambah menjadi 137 orang. Sementara itu, 50 di antaranya merupakan anak-anak, Selasa (1/11/2022).

Untuk diketahui, jembatan sempit itu ambruk ke sungai pada Minggu (30/10) malam sekitar pukul 18.30 waktu setempat. Menurut keterangan Menteri Dalam Negeri Gujarat Harah Sanghavi, sekitar 200 orang diperkirakan berada di jembatan untuk bergabung merayakan Diwali.

“Sekitar 200 orang diperkirakan berada di jembatan pada saat itu,” ujar Sanghavi.

Jembatan dengan panjang 233 meter dan lebar hanya 1,5 meter, diresmikan pada tahun 1880 oleh otoritas kolonial Inggris dan dibuat dengan bahan yang dikirim dari Inggris. 

Jembatan itu menggantung di atas sungai Machchhu yang menghubungkan ke pintu gerbang Morbi, sebuah kota yang masih membawa warisan arsitektur pemerintahan Inggris.

Sandeepsinh Jhala, kepala pejabat kotamadya Morbi, mengatakan jembatan itu belum mengeluarkan sertifikat keselamatan setelah ditutup selama berbulan-bulan untuk perbaikan.

Atas insiden ini, Ketua Menteri Gujarat Bhupendra Patel mengatakan pemerintah negara bagian akan memberikan kompensasi yang setara dengan sekitar 5.000 dolar (Rp78 juta) per keluarga yang meninggal dan masing-masing sekitar 600 dolar (Rp9 juta) untuk yang terluka.