Peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan Jejak Raja Purnawarman

ERA.id - Tarumanegara adalah salah satu kerajaan besar di Pulau Jawa pada tahun 358 hingga 699. Artikel ini akan membahas sejarah hingga peninggalan Kerajaan Tarumanegara.

George Coedès dalam bukunya yang berjudul The Indianized States of Southeast Asia menulis jika sejarah kerajaan diketahui melalui prasasti Kerajaan Taruma yang berupa catatan awal agama Hindu di bagian barat Nusantara.

Letak Kerajaan Tarumanegara sendiri berada pada pesisir Jawa Barat yang berada pada posisi strategis di wilayah Selat Sunda. Lokasi tersebut sangat strategis dalam kaitannya dengan Sumatera, dan juga hubungannya dengan benua Asia yaitu India dan Cina.

Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

  1. Prasasti Tugu Purnawarman

Berdasarkan Prasasti Tugu Purnawarman diketahui pembangunan sebuah kanal yang mengubah aliran Sungai Cakung, dan mengeringkan daerah pesisir untuk pertanian dan pemukiman.

Prasasti menjelaskan jika Purnawarman mengasosiasikan dirinya dengan Wisnu, dan para brahmana yang mengamankan proyek hidrolik melalui ritual. Tarumanagara diyakini telah ada antara 358 dan 669 M di wilayah Jawa Barat, di dalam dan sekitar Bogor, Bekasi dan Jakarta modern.

  1. Prasasti Batu Ciaruteun

Prasasti Batu menjadi catatan tertulis paling awal yang menjelaskan tentang keberadaan Tarumanagara. Sejumlah prasasti batu yang berasal dari masa Tarumanagara juga ditemukan di wilayah Jawa Barat.

Prasasti Ciaruteun ditemukan di tepi sungai Tjiaroeteun dekat Buitenzorg pada tahun 1863, di Hindia Belanda. Prasasti tersebut berupa bongkahan batu besar bertulis terlihat di dekat Ciampea tidak jauh dari Buitenzorg (Bogor).

Prasasti batu ini ditemukan di dasar sungai Ciaruteun, anak sungai Cisadane. Sekarang dikenal sebagai prasasti Ciaruteun, bertanggal abad ke-5, ditulis dalam huruf Vengi (digunakan pada periode Pallava India) dan dalam bahasa Sansekerta.

Prasasti ini adalah prasasti paling awal yang dengan jelas menyebutkan nama kerajaan "Tarumanagara" hingga melaporkan raja Tarumanagara yang paling terkenal.

"Raja termasyhur dan gagah perkasa, Purnawarman (dari) Tarumanagara (kerajaan) yang terkenal yang (cetakan) telapak kakinya sama (dengan) Dewa Wisnu."

  1. Prasasti Kebon Kopi

Di dekat Prasasti Ciaruteun terdapat prasasti Kebon Kopi I, atau yang disebut juga batu Telapak Gadjah lantaran prasasti memiliki ukiran dua jejak kaki gajah berukuran besar.

Prasasti ini berbunyi: Tapak kaki gajah ini, mirip dengan milik Airavata (gajah yang ditunggangi Dewa Indra) yang kuat, milik Raja Tarumanagara yang sukses dan penuh kendali.

Bukan hanya batu-batu itu yang menjadi saksi keberadaan Raja Purnawarman dan kerajaan Tarumanagaranya, tetapi juga sumber-sumber sejarah Cina, karena Tarumanagara mempertahankan perdagangan dan hubungan diplomatik yang luas di wilayah yang terbentang antara India dan Cina.

Biksu Buddha Cina Fa Xian melaporkan dalam bukunya Fo-kuo-chi(414) bahwa ia tinggal di pulau Ye-po-ti atau dalam ejaan Cina “Javadvipa. Pulau tersebut kemungkinan besar barat bagian dari pulau Jawa.

Fa Xian tinggal di Jawa selama enam bulan, dari Desember 412 sampai Mei 413. Dia melaporkan bahwa Hukum Buddha tidak banyak diketahui, tetapi Brahman (Hindu) berkembang, dan bidat (animisme) juga berkembang.

  1. Prasasti Jambu

    Prasasti Jambu: prasasti berisikan kegagahan Sri Purnawarman (Kemendikbud)

Seperti namanya, prasasti ini ditemukan di perkebunan jambu biji di bukit pasir Koleyangkak, Leuwiliang, Bogor (30 km sebelah barat Bogor). Prasasti itu juga memuat informasi terkait tapak kaki Purnawarman.

“Jejak kaki ini adalah jejak kaki Sri Purnawarman, raja Tarumanegara. Baginda Agung dikenal gagah berani, jujur, dan setia dalam menjalankan tugasnya dan tidak ada tandingannya. Baginda Agung selalu berhasil memusnahkan musuh-musuhnya. Yang Mulia menghormati para pangeran tetapi sangat ditakuti oleh musuh-musuhnya, dan melindungi mereka yang memberikan bantuan kepadanya.

  1. Prasasti Pasir Awi

    Prasasti Pasir Awi (Kemendikbud)

Prasasti ini ditemukan di Pasir Awi, Bogor. Dalam situs budaya.kemdikbud.go.id disebutkan arkeolog asal Belanda, N.W. Hoepermans menemukan prasasti tersebut untuk pertama kalinya pada tahun 1864.

Di prasasti itu terukir sepasang tapak kaki yang sama dengan yang ada di prasasti Jambu. Artinya, gambar tapak tersebut kemungkinan besar akan dianggap sebagai tapak kaki Sri Purnawarman.

Selain peninggalan Kerajaan Tarumanegara, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu ingin tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman