Badai PHK Massal Startup, Dampak Ekonomi Global atau Bakar Uang?

ERA.id - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menghantam banyak perusahaan rintisan (startup) di Indonesia tahun ini. Yang terbaru, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk resmi melakukan PHK terhadap 1.300 orang atau sekitar 12 persen dari total karyawan tetapnya. Hal ini disampaikan lewat keterangan resmi pada Jumat (18/11/2022).

Goto bukan satu-satunya startup yang melakukan perampingan dengan alasan kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Sebelumnya, beberapa startup sudah lebih dulu memangkas jumlah karyawannya. Rata-rata startup yang dihantam gelombang PHK ini menggeluti bidang e-commerce dan edutech.

Pada akhir Mei lalu, startup Zenius yang menyediakan layanan bimbingan belajar online melakukan PHK terhadap 25 persen karyawannya atau lebih dari 200 orang. “Setelah melalui evaluasi dan review peninjauan ulang komprehensif, Zenius mengumumkan bahwa lebih dari 200 dari karyawan harus meninggalkan Zenius,” tulis Zenius dalam pernyataan resminya, Rabu (25/5/2022).

Shopee Indonesia juga melakukan PHK sekitar 3 persen dari total karyawannya atau kurang lebih 186 orang pada September 2022. Head of Public Affairs Shopee Indonesia Radynal Nataprawira menyatakan dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/9/2022), “Kondisi ekonomi global menuntut kami untuk lebih cepat beradaptasi serta mengevaluasi prioritas bisnis agar bisa menjadi lebih efisien.”

PHK ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Induk Shopee sendiri, Sea Ltd. telah memangkas sekitar 7.000 orang atau sekitar 10 persen dari total karyawannya dalam enam bulan terakhir seperti dilansir dari Bloomberg.

Lalu pada bulan Oktober kemarin, startup pendidikan Binar Academy melakukan PHK terhadap 20 persen dari total karyawannya. CEO Binar Academy Alamanda Shantika mengatakan dalam keterangan resminya, Senin (17/10/2022) bahwa keputusan ini merupakan strategi menghadapi dinamika ekonomi global.

Baru-baru ini, Ruangguru juga mem-PHK ratusan karyawannya dengan alasan situasi pasar global yang memburuk secara drastis. “Terdapat ratusan pegawai Ruangguru yang terdampak dari pemutusan hubungan kerja ini,” tulis tim Corporate Communication Ruangguru dalam keterangan resminya, Jumat (18/11/2022).

Selain beberapa nama di atas, banyak lagi startup yang melakukan PHK sepanjang 2022 ini, mulai dari TaniHub, JD.ID, hingga startup plat merah LinkAja. Sebagian bahkan dinyatakan bangkrut, seperti Fabelio dan Pahamify.

Jadi primadona saat pandemi hingga rekrut karyawan besar-besaran

Sejak pandemi Covid-19 merebak hingga Indonesia, pemerintah memutuskan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada tahun 2020. Kegiatan masyarakat di luar rumah serba dibatasi untuk mengendalikan laju kenaikan pasien covid. Banyak sekolah ditutup.

Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) RI mengganti kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Berdasarkan situs kemendikbud, hingga Agustus 2020 terdapat ratusan ribu sekolah ditutup, sekitar 68 juta siswa melakukan kegiatan belajar di rumah, dan sekitar empat juta guru melakukan kegiatan mengajar jarak jauh.

Kondisi tersebut otomatis membuka keran bisnis bagi startup teknologi pendidikan atau edutech. Ruangguru misalnya membuka program Sekolah Online Ruang Guru (SORG) yang menawarkan akses gratis ke semua mata pelajaran sekolah kelas 1 hingga kelas 12. Enam bulan setelah SORG diluncurkan pada Maret 2020, penggunanya sudah mencapai 7,5 juta orang.

Sementara itu, CEO Zenius Rohan Monga mengungkapkan sejak Juli 2019 hingga akhir kuartal II/2020, pengguna aktif bulanan Zenius meningkat sebanyak 12 kali lipat. Berbagai startup edutech lainnya juga laris manis selama pandemi dan sepanjang PSBB berlangsung. Kemendikbud sendiri mengadakan program subsidi kuota internet agar pelajar sekolah Indonesia dapat mengakses 18 aplikasi belajar online mulai dari Ruangguru hingga Zenius.

Belum lagi pemerintah membuka program Kartu Pra Kerja yang bermitra dengan delapan platform, yaitu Tokopedia, Skill Academy by Ruangguru, Maubelajarapa, Bukalapak, Pintaria, Sekolahmu, Pijarmahir, dan Sisnaker. 

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut delapan startup yang bekerja sama dengan pemerintah berpotensi meraup untung Rp 3,7 triliun, atau Rp 457 miliar per startup.

Selain itu, banyak startup edutech juga menerima pendanaan besar-besaran dari investor asing. Ruangguru pada 2019 mendapat pendanaan seri C senilai US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun oleh modal ventura asal Amerika Serikat (AS), General Atlantic dan GGV Capital. Pada tahun 2021, ia kembali mendapat pendanaan lanjutan senilai US$ 55 juta (lebih dari Rp 800 miliar) yang dipimpin Tiger Global Management.

Selain startup edutech, e-commerce juga jadi primadona selama pandemi. Bain Analysis merilis laporan bahwa sektor e-commerce mencatatkan pertumbuhan terbesar selama pandemi yang mencapai 52 persen.

Cepatnya pertumbuhan startup ini berimbas juga pada peningkatan rekrutmen karyawan. Berdasarkan riset RevoU selama periode Mei 2021-Mei 2022, Ruangguru mengalami peningkatan karyawan terbanyak dengan penambahan 2.351 orang, disusul Tokopedia dengan jumlah karyawan baru sebanyak 1.873 orang. 

Dari daftar 10 perusahaan dengan jumlah karyawan baru terbanyak, 3 di antaranya merupakan startup edutech, yaitu Ruangguru, Sekolah.mu, dan Zenius.

Resesi dan ekonomi global sebagai kambing hitam

Konsultan bisnis Clayton Christensen memperkenalkan istilah “inovasi disruptif” pada 1997, yaitu inovasi yang merusak pasar yang sudah ada dengan menciptakan pasar baru. Ia mengatakan setiap tahun ada 30.000 produk baru yang bersifat inovatif, dan 90 persen di antaranya mengalami kegagalan.

Pakar bisnis Rhenald Kasali menggolongkan startup ke dalam inovasi disruptif tersebut. Baru-baru ini ia menyinggung startup yang melakukan PHK dengan dalih rata-rata serupa: ancaman resesi dan kondisi ekonomi global yang kacau. Padahal, menurutnya, selama pandemi banyak startup diuntungkan karena pengguna jasa mereka yang ramai. 

Melihat kondisi sekarang, ia menyebutkan dua kemungkinan mengapa badai PHK massal bisa menyerang startup, antara mereka membakar uang (burn rate) secara berlebihan, atau model bisnis yang tidak berkelanjutan (sustain).

Rhenald menjelaskan bahwa bakar uang adalah strategi untuk menyingkirkan kompetitor sehingga dalam pasar tidak terjadi kompetisi. "Jadi modal 100 kita jual di bawah harga dengan tujuan menghapuskan persaingan," ujarnya, Selasa (28/6/2022). 

"Jika kita beli di marketplace A, harganya 130 ribu jadi 119 ribu karena ada diskon yang lumayan. Anak-anak muda lebih pandai bisa mencari yang lebih murah. Teori ekonomi mengatakan jika ada produk serupa dan lebih murah konsumen akan bergeser,” lanjutnya.

Strategi inilah yang menurut Rhenald banyak digunakan startup untuk meningkatkan konsumen. Namun, bakar uang juga bisa menjadi pisau bermata dua. "Kalau bakar duit secara berlebihan, ini yang terjadi: kompetisi di antara mereka," ujarnya, Minggu (20/11/2022).

Adapun startup edutech macam Ruangguru sulit untuk bertahan pasca pandemi karena produknya yang kurang sustain. "Bayangkan, siapa yang mau kursus berkelanjutan memanfaatkan Kartu Pra Kerja pada masa itu, dan kemudian sekarang kita lihat kursus-kursus gratisan ada di mana-mana," ujar Rhenald. "Dan sekarang situasinya online to offline."

Pada acara BUMN Startup Day, Senin (26/9/2022), Presiden Joko Widodo sempat menyebutkan bahwa hampir 80-90 persen startup gagal karena tidak mampu menangkap kebutuhan pasar. “Berangkatnya mestinya dari kebutuhan pasar yang ada itu apa,” kata Jokowi. 

Hal ini senada dengan riset dari CB Insight yang mengungkapkan 20 alasan kegagalan startup. Paling besar disebabkan tidak adanya kebutuhan pasar dengan 42 persen, dilanjutkan kehabisan dana dengan 29 persen.

Berkaca dari faktor-faktor tersebut, Rhenald mengingatkan startup untuk tidak melulu menjadikan resesi sebagai kambing hitam. “Ingat resesi itu tidak selalu berdampak pada semua bangsa di seluruh dunia, jangan mencari kambing hitam. Barangkali kita sendiri yang mismanajemen,” ujarnya.