Masjid Agung Surakarta, Pusat Kebudayaan Islam yang Pertahankan Tradisi Keraton dan Budaya Kearifan Lokal

ERA.id - Masjid Agung Surakarta menjadi salah satu ikon bersejarah di kota Solo, Jawa Tengah. Masjid bergaya tradisional Jawa ini merupakan peninggalan Raja Pakubuwono III, yang dibangun tahun 1763.

Berada di sekitar Alun-alun Utara Keraton Surakarta, masjid ini memiliki keunikan dengan atap bertingkat dan mahkota di bagian puncaknya. Bukan hanya itu saja, masjid yang menjadi pusat kebudayaan Islam di Solo ini juga memiliki gapura utama yang sangat kokoh berbentuk paduraksa.

Meski sudah berusia kurang lebih 259 tahun, masjid ini masih menjadi pusat kegiatan tradisi budaya Jawa dan Islam di Solo, seperti kegiatan sekaten, bancak'an, kenduren, dan lain-lain.

"Masjid Agung ini tetap memelihara budaya Jawa, masih ada kegiatan bersifat tradisional yang merupakan akulturasi dengan tradisi islam yang kami selenggarakan, seperti contohnya budaya sekaten," kata sekretaris Masjid Agung Surakarta, Ir. H. Abdul Basid Rohmat.

Sekaten sendiri merupakan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang dilaksanakan setahun sekali oleh Keraton Surakarta. Tujuan sekaten itu sendiri adalah untuk syiar Islam melalui sholawat dan juga sedekah.

Selain itu, kata Basid, umumnya acara sekaten diadakan dengan cara membunyikan gamelan yang diarak ke Masjid Agung. Penggunaan gamelan ini menjadi salah satu sarana penyebaran agama Islam yang digemari terutama di Jawa Tengah.

Nantinya gamelan yang diarak ke masjid dikembalikan ke Keraton yang menandakan prosesi sekaten telah selesai dilaksanakan.

"Sekaten itu perpaduan antara kesenian dan dakwah. Dalam bunyi-bunyiannya diciptakan langgam-langgam Jawa yang berisi ajaran Islam sebagai sarana penyebaran agama," jelas Basid.

Keputusan Masjid Agung Surakarta untuk mempertahankan tradisi Keraton dan budaya lokal guna memelihara budaya Jawa dan tradisi Islam agar bisa berjalan beriringan.

Surakarta sendiri merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang dikenal memiliki banyak tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kebudayaan yang beragam, adat istiadat, kebiasaan sehari-hari hingga aktifitas keagamaan.

"Tradisi itu akan terus terawat jika masyarakat tetap melestarikannya. Namun bila hal itu tidak dilakukan, maka tradisi tersebut akan tergerus dengan budaya-budaya asing dan menghilang dengan sendirinya," papar Basid.

Masjid Agung Surakarta sendiri memiliki halaman yang luas dan sejuk dengan banyaknya pohon rindang di sekitar pelataran. Masjid Agung mampu menampung sedikitnya 2.000 jamaah, yang juga dilengkapi dengan tiga pintu masuk dengan gapura utama di sisi timur, dan pintu lainnya di sisi selatan dan utara.